1.500 Pekerja PT Freeport Diberhentikan

Tidak ada komentar 188 views

Timika,(DOC) – Akibat ekspor bahan baku tambang diberhentikan sejak tanggal 14 Januari 2014 lalu, PT Freeport Indonesia memberhentikan 1.500 pekerja kontraktor..

“Saya dengar sudah lebih dari 1.500 orang pekerja kontraktor yang tidak diperpanjang lagi kontraknya oleh Freeport. Jumlah itu akan semakin bertambah karena saat ini Freeport hanya produksi 40 persen. Kondisi ini tentu membawa dampak sosial yang sangat besar di Kabupaten Mimika,” kata Ketua Komisi A DPRD Mimika, Papua, Athanasius Allo Rafra, Senin,(24/3/2014).

Ia berharap manajemen PT Freeport dan pemerintah sesegera mungkin membangun pabrik peleburan (smelter) bahan baku tambang agar situasi dan kondisi yang dialami pekerja, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Mimika kembali membaik.
“Pembangunan pabrik smelter harus didorong untuk dipercepat apakah dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan sudah bisa beroperasi. Selama dalam jangka waktu itu, apa solusi yang diberikan oleh pemerintah kepada Freeport sehingga perusahaan itu tidak sampai mem-PHK pekerjanya,” tuturnya.

Menurut dia, dampak dari pemberlakuan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara sangat besar bagi Kabupaten Mimika sebagai daerah yang sangat menggantungkan pendapatannya dari operasional PT Freeport Indonesia.
Selama ini lebih dari 90 persen penerimaan daerah Kabupaten Mimika bersumber dari PT Freeport Indonesia, baik dalam bentuk bagi hasil pajak, royalti dan lainnya.
Di sisi lain, katanya, Freeport juga merupakan donatur satu-satunya untuk membiayai berbagai program pemberdayaan masyarakat lokal Suku Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan di sekitar area pertambangan.

Dana kemitraan yang diberikan oleh PT Freeport Indonesia dikelola oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) untuk membiayai program pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Di samping itu, saat ini terdapat sekitar 8.000 warga dari berbagai etnis yang menggantungkan ekonomi keluarga mereka dari usaha mengais butiran emas yang terbawa arus Sungai Ajkwa (Kali Kabur).

Butiran emas yang terbawa arus Sungai Kali Kabur itu ikut bersama pasir sisa tambang (sirsat) yang dilepas dari pabrik pengolahan Freeport di Mil 74.
Dengan semakin berkurangnya produksi Freeport maka secara otomatis pendapatan para pendulang liar yang selama ini beroperasi di Kali Kabur juga akan berkurang atau bahkan terancam kehilangan lapangan pekerjaan.

“Kalau kondisi ini tidak segera berubah maka akan terjadi pengangguran dalam jumlah yang sangat besar di kota Timika dan hal itu akan memicu berbagai tindak kriminalitas. Kondisi-kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak,” ujar Allo Rafra, politisi dari PDI-Perjuangan.(win/r7)