1000 Kasus Narkoba Perlu Ditangani Cepat

Tidak ada komentar 188 views

imageSurabaya,(DOC) – Sebanyak 15 lembaga yayasan pemerhati dan pendamping korban penggunaan narkoba mengusulkan ada tindakan cepat mengatasi Surabaya gawat narkoba. Saat ini ada 1.000 kasus lebih siswa sekolah menyalahgunakan narkoba di Surabaya.

Mereka mendatangi Komisi D DPRD Surabaya, Rabu (22/6/2016) siang, menyampaikan aspirasi gerakan agar Surabaya bebas narkoba. Aspirasi yang disampaikan lembaga lembaga ini bukan tanpa alasan, mengingat kondisi Surabaya yang saat ini dinilai gawat narkoba.

Menurut Esthi Susanti, Ketua Yayasan Hotline Surabaya, saat ini sudah terjadi pergeseran pergerakan penggunaan narkoba dibanding sebelumnya. Kegawatan sangat terasa karena sekarang ini untuk mendapatkan narkoba (pil double L) dan shabu harus sampai dengan pertukaran seks yang diisitilahkan dengan TTS.

“Kalau dulu untuk memantau dan mencegah peredaran narkoba dilakukan dengan melakukan razia di tempat hiburan malam seperti diskotik, itu sekarang sudah terlambat. Karenanya kami ini sekarang minta agar Pemkot Surabaya melakukan pencegahan yang intensif terhadap penggunaan narkoba,” ujar Esthi Susanti.

Saat ini menurutnya, ada 1.000 kasus lebih di Surabaya yang ia tangani bersama lembaga lainnya. Ini data tahun 2015 dan 2016. Mereka ini dalam berbagai kategori mulai yang ringan sampai yang berat. Hal ini mengingat dampak pil koplo yang bisa merusak otak bagi penggunanya.

“Saya menemukan fakta ada sekitar 5 sekolah baik negeri maupun swwasta di mana dalam satu kelasnya menjadi korban narkoba. Ini sungguh mengenaskan,” ujar perempuan berkacamata ini tanpa menyebutkan sekolah mana saja yang dimaksud.

Hotline sendiri melakukan survei di sekolah SMP dengan target anak anak berusia 14 tahun. Kenapa SMP? karena menurut Esthi usia SMP ini merupakan perkembangan anak yang perlu mendapat perhatian. Bahkan ada anak SMP yang terkena pengaruh narkoba sejak usia SD.

Beberapa waktu lalu, Hotline juga melakukan pelatihan ketrampilan pencegahan narkoba diikuti oleh 700 siswa. Tujuannya agar anak mengetahui tentang bahaya narkoba, karena jika sekali saja kena pil koplo akibatnya sungguh luar biasa.

“Ini problem epidemik. Karenanya Pemkot Surabaya harus gerak cepat untuk menangani masalah ini. Paling tidak melakukan survei terhadap siswa untuk data. Sebab saat ini memang benar benar sudah gawat” katanya.

Untuk masalah ini Esthi mengaku sudah melakukan audiensi kepada Pemkot Surabaya dan mendapat sambutan positip di beberapa SKPD seperti Bapemas dan Dinsos. Anehnya ada beberapa SKPD yang tidak welcome dengan upaya Hotline ini. Namun Esthi enggan menyebutkan SKPD mana saja.

“Kami perharap pemkot mau melihat perubahan radikal ini. Ada perubahan yang sangat radikal. Di mana anak anak peremmpuan sangat agresif minta narkoba pada laki laki dengan imbalan seks,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Agustin Poliana, Ketua Komisi D DPRD Surabaya mengatakan sangat menghargai upaya 15 lembaga ini guna ikut memberantas narkoba. “Saya hargai kedatangan 15 lembaga ini. Nanti akan kami teruskan dengan melakukan hearing memanggil SKPD terkait membahas masalah ini,” ujar politisi PDIP ini.

“11 usulan yang disampaikan sangat positip. Tapi lebih baik masukkan unsur agama sebagai salah satu pilar penting ketahanan keluarga. Masalah ini menjadi tanggung jawab kita semua, harus dilakukan penanganan mulai hulu ke hilir,” kata Ibnu Shobir, anggota komisi D dari PKS.(sk/r7)