2 Anggota Fraksi Berseteru Pembahasan Kelengkapan Dewan

Surabaya,(DOC) Fraksi Kesejahteraan Sosial(FPKS) DPRD Surabaya nampaknya ‘jengkel’ juga atas sikap sejumlah fraksi-fraksi yang terkesan tak memberi peluang mendapatkan jatah kursi Ketua di Komisi dan alat kelengkapan dewan lainnya.  Kesan tersebut disampaikan oleh anggota FPKS, Reni Astuti, yang menyatakan pembentukan alat kelengkapan dewan dapat dilakukan dengan menggunakan Tata Tertib(Tatib) dewan periode lalu.

Pernyataan anggota dewan incumbent ini, ternyata memicu reaksi Wakil Ketua DPRD Surabaya, Masduki Toha, yang meminta FPKS legowo dengan tidak mempersoalkan jabatan dan posisi di dalam struktur kelengkapan dewan,

Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa(FKB) ini menyatakan, keputusan pembentukan alat kelengkapan dewan akan dilakukan setelah penetapan Tatib baru, sudah disepakati dalam rapat pimpinan(rapim) dewan dan fraksi. Sehingga semua anggota harus menghormatinya. Ia menyarankan kepada Reni, untuk tidak mengumbar statement ke media yang bisa membuat anggota baru bingung. “Kalau sudah diputuskan bersama, jangan membuat opini di media. Ini kan kesannya kemudian pimpinan yang salah dalam hal ini,” ujar Masduki Toha, Jumat(19/9/2014).

Ia mengungkapkan, dalam rapim yang digelar Kamis(18/9/2014)kemarin,  memang antar pimpinan fraksi dan pimpinan dewan sempat terjadi berdebatan yang sangat panjang. Namun pada akhir rapat, semua permasalahan dapat terselesaikan dan seluruh peserta rapat, bersedia menandatangani keputusan.

“Kemarin dari F-PKS yang hadir pak Yanto (Akhmad Suyanto,red). Tapi kenapa sekarang yang protes kok saudari Reni Astuti. Ada apa ini?. Ini namanya  tidak fair. Kalau pak Sutadi (F-Gerindra) yang ngomong saya hormat, karena beliau ikut hadir,” sesal Masduqi.

Pokok permasalahan dalam tatib lama yang harus diperbaiki yaitu pasal 67. Menurut Masduqi,  dalam pasal itu disebutkan bahwa pansus tata tertib hanya Ketua tanpa sekretaris. Anehnya lagi, yang protes soal pasal 67 adalah Akhmad Suyanto mantan wakil ketua dewan.

“Itu kan tidak nyambung. Dia kan dulu Wakil Ketua. Mestinya ada yang salah waktu itu dia yang mengoreksi bukan periode anggota dewan yang baru sekarang. Teman-teman saya warning, supaya komunikasi antara ketua fraksi dengan anggotanya itu sejalan,” tantang Masduqi.

Disinggung soal protes yang disampaikan anggota FPKS, akibat imbas dari bocornya susunan alat kelengkapan yang telah disusun sesuai konspirasi kedekatan Fraksi, Masduki Toha enggan menjawabnya. Ia hanya berpesan ke fraksi yang lain untuk belajar banyak dari partainya.

“Dulu lima tahun PKB tidak dapat kursi loh tidak apa-apa. Padahal waktu itu jumlah kursi PKB lebih banyak dari PDS. Tapi faktanya, kan PDS yang lebih banyak mendapatkan posisi penting. Waktu lima tahun kemarin ada pembelajaran bagi kita semua,”kesalnya.(k1/r7)