22 Wisma Lokalisasi Kremil Tambakasri Resmi Ditutup

Surabaya , (DOC) – Prostitusi di kawasan Tambakasri kini berangsur-angsur punah. Rumah-rumah warga yang dulu digunakan wisma mucikari, sekarang telah beralih fungsi sebagai tempat tinggal.
Sebanyak 22 wisma yang berada di lokalisasi kremil, Tambakasri, Selasa (4/12) sore, resmi ditutup oleh Walikota Surabaya dan Dinas Sosial pemkot Surabaya. Wisma-wisma tersebut beralih fungsi menjadi rumah warga untuk tempat tinggal keluarga.
Sebagai tanda bahwa pemilik wisma telah berhenti beroperasi, pintu rumah mereka di pasang plat bertuliskan “Rumah Tangga”.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya – Supomo menjelaskan, puluhan mantan pekerja seks komersial (PSK) telah memutuskan berhenti dari profesinya yang lama. “23 orang diantaranya dipulangkan ke daerah asalnya.” kata Supomo.
Sebelumnya, para PSK yang menyatakan telah berhenti, sudah dibekali berbagai macam pelatihan keterampilan seperti tata boga, tata rias, dan kerajinan tangan. Mereka juga mendapatkan bantuan modal sebesar Rp 3 juta dari Pemprop Jatim. “Itu untuk membantu wanita harapan atau wanita tunasusila untuk membuka usaha yang baru di daerah asalnya,” Imbuh Supomo.
Menurut Supomo, sekarang di wilayah morokrembangan masih terdata 368 PSK serta 92 wisma yang masih aktif. Namun, pihaknya yakin dalam waktu dekat seluruh wisma di Tambakasri bakal tutup semua.
Ia menjelaskan, sekitar sebulan lalu, pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan para mucikari yang menyatakan sepakat akan menutup wisma-wismanya.
“Jumlah mucikari saat ini 114 orang. Namun, berdasarkan hasil pertemuan, mereka telah sepakat akan menutup wismanya dan beralih ke peluang bisnis yang lain,” ungkap pria yang sebelumnya menjabat Camat Kenjeran ini.
Sementara itu, Ketua RW VI Kelurahan Morokrembangan, Subandi membenarkan hal itu. Bahkan menurut Subandi, penutupan seluruh wisma di Tambakasri, kini hanya tinggal menunggu waktu, karena semua pihak secara mayoritas sudah mendukung.
“komitmen perubahan diawali dengan adanya niat dari pengurus RW yang kemudian secara rutin mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan agama.” Ujar Subandi
Upaya penyadaran ini akan terus berlanjut dengan pemberian siraman rohani kepada mucikari dan PSK seminggu sekali. Selain itu, pengurus RW juga menerbitkan berbagai aturan yang wajib dipatuhi oleh seluruh wisma, seperti pemberlakuan jam untuk memutar musik saat adzan, tidak boleh menambah jumlah PSK, serta setiap PSK hanya diperbolehakn bekerja di satu wisma dan satu mucikari. “Jika melanggar, sanksinya tegas, yakni ditutup,” ujarnya.
Wisma-wisma yang tutup, baik karena pelanggaran maupun secara sukarela, akan menerima surat keputusan (SK) RW yang menyatakan bahwa rumah-rumah tersebut tidak lagi berfungsi sebagai sarana prostitusi. Awalnya warga RW VI Kelurahan Morokrembangan ini menolak aturan tersebut, namun saat ini semuanya telah sepakat.
“Saya tidak pernah gentar, yang penting komitmen kami. Kuncinya yang terpenting adalah dukungan mayoritas warga yang ada di sini. Kami pengurus RW beserta tokoh masyarakat berada di garda terdepan untuk perubahan yang lebih baik,” tegas Subandi.(r-7)