3 Bulan Lagi Raperda Toko Modern di Sahkan

Tidak ada komentar 177 views

Surabaya,(DOC) – Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) toko modern nampaknya masih harus melalui proses yang cukup panjang. Pasalnya, banyak yang harus dibahas dalam raperda tersebut. Diantaranya terkait lebar jalan, jam operasional, serta jarak antara toko modern dengan toko tradisional.

Namun, yang menarik dalam pembahasan tersebut adalah, menjamurnya toko modern yang berada di Surabaya rata – rata semuanya belum mempunyai Izin Usaha Toko Modern (IUTM). Sehingga, komisi B DPRD Kota Surabaya menghimbau kepada pemilik toko modern untuk segera mengurus IUTM sebelum raperda tersebut disahkan.

Ketua Pansus toko modern, Eddy Rusianto mengatakan, dalam konsep pembahasan raperda ini masih tetap mengacu dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan masih harus mempertimbangkan jarak antara pasar tradisional dengan toko modern. Sebab, apabila keduanya berdekatan takutnya, nanti usaha toko tradisional secara tidak langsung akan punah.

“Ya, minimal jarak antara toko moderen dengan toko tradisional 500 meter lah. Serta, kami (komisi B) juga akan mengatur tentang jam operasionalnya. Sesuai konsep yang pernah kami bahas sebelumnya, toko moderen bisa buka mulai pukul 10 pagi sampai jam 11 malam, kecuali ada izin khusus,” ujarnya, saat melakukan hearing, Senin (28/4/2014).

Politisi Partai Gerindra ini, menjelaskan, hasil konsultasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub), bahwa toko modern seperti minimarket paling tidak harus mempunyai lebar jalan sebesar 8 meter. Begitu pula dengan IUTM, yang diberi deadline oleh komisi B tiga bulan untuk mengurusnya.

“Kalau masih tetap tidak mau mengurus. Ya, nanti jangan salahkan kami kalau tokonya ditutup secara paksa oleh Pemerintah Kota (Pemkot). Untuk mendapatkan IUTM, ada syarat yang harus dipenuhi, kalau tidak mendapatkan syarat, berarti toko tersebut hanya bisa berdiri selama 2,5 tahun saja, dan selanjutnya akan ditutup atau direlokasikan,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan, pengecualian untuk toko modern seperti minimarket, toko pembelanjaan, hypermarket, dan supermarket yang berada di terminal, pelabuhan, dan rumah sakit yang bisa buka selama 24 jam. Sebab perizinannya berbeda.

Sementara itu, perwakilan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag), Didik Cahyadi menuturkan, agar toko tradisional tidak kalah dengan adanya keberadaan toko moderen. Ia, berharap kalau bisa barang yang dijual di toko tradisional dapat merabah ke toko – toko moderen yang selama ini merajalela.

“Sebelumnya ini sudah kami bahas dan masih konsep dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan(Disperindag) kota Surabaya, agar barang yang dijual di toko tradisional bisa masuk ke toko modern. Sedangkan untuk usaha wara laba tidak boleh dilakukan secara perorarangan, tapi harus mempunyai badan hukum yang menaungi toko tersebut,” imbuhnya.(r7)