Komisi D Naikkan Anggaran Makanan Tambahan untuk Lansia Naik Rp 15 Ribu per Orang

Ketua Komisi D Agustin Poliana

Surabaya,(DOC) – Anggaran pemberian makanan tambahan untuk warga lanjut usia (Lansia) di Surabaya selama ini dinilai masih kurang memenuhi standar. Dimana, tiap Lansia dianggarkan Rp 11 ribu untuk memenuhi asupan makanan yang bergizi bagi mereka. Sementara, seiring perkembangan waktu, harga-harga kebutuhan bahan pokok terus mengalami kenaikkan sehingga angka Rp 11 ribu dinilai sudah tidak relevan.

Untuk itu, Komisi D (Bidang Kesejahteraan) DPRD Surabaya menaikkan anggaran pemberian makanan tambahan untuk Lansia menjadi Rp 15 ribu per orang.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya Agustin Poliana mengatakan, anggaran permakanan lansia senilai Rp 11 ribu per lansia yang sekarang diberikan sudah tidak layak lagi.

Penambahan nominal bantuan permakanan itu dimasukkan dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) APBD Kota Surabaya tahun 2018,

“Nilai kelayakan anggaran pemberian makanan tambahan lansia bisa naik menjadi Rp 15 ribu per orang bruto, atau belum dipotong PPN. Tapi kalau bersihnya sudah dipotong PPN, per lansia mendapat Rp12.500,” kata Agustin, Jumat(13/10/2017).

Menurut dia, nilai tersebut sudah mencakup nasi, lauk-pauk, buah dan air mineral.

Namun, lanjut Titin untuk sementara ini Komisi D DPRD Surabaya baru memperjuangkan nilai Rp Rp 11.500  yang diberikan netto, melalui perubahan anggaran keuangan (PAK) APBD Kota Surabaya tahun 2017 di KUA PPAS. Sehingga anggaran itu bisa terealisasi selama 4  bulan kedepan.

Selain menambah nilai anggaran, sebut Agustin, Komisi D juga mendorong penambahan jumlah kuota lansia yang mendapatkan anggaran permakanan.

Menurut legislator dari PDI Perjuangan ini, kuota sebesar 11.000 lansia yang ada saat ini sudah tidak relevan lagi.

“Jumlah lansia sekarang di Surabaya sebanyak 65 ribu orang. Itu belum ditambahkan dengan jumlah anak yatim piatu dan penyandang cacat,” ujarnya.

Untuk masalah ini, pihaknya mengharapkan peran serta dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya untuk memberikan data jumlah penduduk Surabaya yang sudah memasuki usia 60 tahun.

“Saya pikir Dispendukcapil sudah punya datanya. Kalau jumlah lansia 65 ribu orang, maka bisa diambil tengahnya dulu 30 ribu lansia yang dapat anggaran permakanan,” ucap perempuan yang sudah empat periode sebagai wakil rakyat ini.

Jumlah lansia itu, menurutnya, belum ditambahkan dengan jumlah anak yatim piatu dan penyandang cacat.

Hanya saja, tambah Agustin, data sekarang yang baru mendapat anggaran permakanan masih sebatas 11.000 lansia.

“Tapi juga diingat, anggaran itu juga harus tepat sasaran. Untuk itu, data lansia harus seakurat mungkin,” tegas dia. (adv)