7 Tahun Penjara Vonis Kepala SKK Migas

Tidak ada komentar 166 views

Jakarta,(DOC) – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan putusan atau vonis tujuh tahun penjara kepada Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas, Rudi Rubiandini. Rudi juga divonis denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan penjara.
“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan secara hukum melakukan tindak pidana korupsi,” kata Ketua majelis hakim Amin Ismanto saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (29/4/2014).
Hakim menilai mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu terbukti menerima suap dari beberapa pihak, menerima gratifikasi, dan mencuci uang hasil suap.
Atas perbuatan itu, Rudi dianggap melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Rudi juga dianggap terbukti bersalah dalam dakwaan ketiga ihwal pencucian uang. Dia dijerat dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.
Dalam menjatuhkan putusan, hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Untuk hal yang memberatkan, perbuatan Rudi dinilai tidak mendukung pemerintah yang tengah giat-giatnya memberantas korupsi. “Terdakwa berlaku sopan, terdakwa belum pernah dihukum, dan terdakwa menyesali perbuatannya,” kata hakim menjelaskan hal-hal yang meringankan putusan terhadap Rudi.
Pembacaan putusan sempat diwarnai perbedaan pendapat (dissenting opinion) hakim anggota 2 Mathius Samiaji dan Purwono Aji Santoso. Pada intinya, hakim anggota itu menilai wajar pemberian hadiah kepada Rudi lantaran Kernel Oil telah menjadi pemenang lelang tender minyak mentah kondensat dan dianggap tidak menyalahgunakan kewenangan Rudi selaku Kepala SKK Migas.
Menanggapi putusan tersebut, Rudi dan kuasa hukum menerimannya. Sementara, Jaksa KPK menyatakan pikir-pikir. “Bismillahirohmannirohhim, dengan mengucap inallahi wainailaihi rojiun, saya terima putusanini,” kata Rudi yang mengenakan kemeja batik lengan panjang itu.
Putusan tersebut lebih ringan dari tuntuan Jaksa KPK sebelumnya. Sebab, Jaksa KPK sebelumnya menuntut 10 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp 250 juta subsider tiga bulan kurungan penjara. Rudi dinilai menerima duit SGD 200 ribu dan USD 900 ribu dari pemilik PT Kernel Oil Ptd Ltd, Widodo Ratanachaitong. Widodo memberikan duit itu supaya Rudi menyetujui perusahannya, Fossus Energy Ltd, menjadi pemenang di beberapa tender di SKK Migas. Rudi juga menginginkan agar beberapa tender di SKK Migas digabung dan ditunda.
Rudi juga terbukti menerima USD 522.500 dari Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri, Artha Meris Simbolon. Menurut Jaksa Riyono, Artha Meris memberikan uang itu supaya Rudi menyetujui permohonan penurunan formula harga gas untuk perusahaannya buat disampaikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik.
Terkait dakwaan gratifikasi, menurut Jaksa Andi Suharlis, Rudi juga dianggap terbukti menerima uang dari sejumlah pejabat SKK Migas. Yakni SGD 600 ribu dari Wakil Kepala SKK Migas (kini Pelaksana Tugas Kepala SKK Migas) Yohanes Widjonarko, USD 150 dan USD 200 ribu dari Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas Gerhard Maarten Rumesser, serta USD 50 ribu dari Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, Iwan Ratman.
Sementara dalam kasus pencucian uang, Rudi terbukti menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaannya. Menurut Jaksa Andi, perbuatan dilakukan Rudi dalam mencuci uang dengan cara menempatkan duit pada safe deposit box di Bank Mandiri Outlet Prioritas Thamrin Box 303, menempatkan uang di rekening Bank Mandiri milik Rudi dan Bank BRI milik Rudi. Rudi juga dengan sengaja menitipkan uang pada dua safe deposit box milik Deviardi, pelatih golf Rudi, di Bank CIMB Niaga cabang Pondok Indah nomor box 117 dan box 369 senilai USD 1,072 juta dan SGD 800 ribu.
Dalam mencuci uangnya, Rudi disebut sengaja membeli mobil Volvo XC90 3.2 R Design seharga Rp 1,6 miliar melalui Deviardi pada 7 Maret 2013 di dealer mobil PT Indobuana Autoraya Suryopranoto, Jakarta Pusat. Kemudian pada Mei 2013, Rudi membeli sebuah rumah di Jalan Haji Ramli, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Sebelum membeli rumah, Rudi meminta Deviardi menukarkan fulus dalam mata uang Dolar Singapura senilai Rp 2 miliar.
Rudi juga dengan sengaja meminta Deviardi membelikan jam Rolex Datejust seharga USD 11.500 atau senilai Rp 106 juta buat diberikan kepada istrinya, Elin Herlina. Rudi juga pernah meminta Deviardi membelikan jam tangan merek Citizen. Rudi juga dinilai sengaja membeli mobil Toyota Camry seharga Rp 669 juta dari dealer Toyota Auto2000 Cilandak, Jakarta Selatan.
Rudi juga membayarkan sejumlah uang senilai Rp 405.051.500 kepada Mayaza Wedding Organizer di Jalan Cigadung Raya Barat, Bandung, sebagai biaya cicilan pernikahan anaknya. Diduga uang untuk pernikahan anaknya itu diambil dari uang sogokan.
Tak hanya itu, Rudi juga dianggap terbukti mengalihkan uang di brankas miliknya di ruang kerja kantor SKK Migas maupun pada safe deposit box Bank Mandiri Thamrin melalui sopirnya, Asep Toni, ke beberapa rekening. Antara lain atas nama Rudy Gunawan sebesar Rp 100 juta, Ela Riyela Ria Soch sebesar Rp 50 juta, Refabbia Adha dan Rizkie Belandie masing-masing Rp 50 juta. Serta Rp 100 juta kepada Rafi Herfini, yang juga anak Rudi.
Rudi juga dengan sengaja telah menukarkan dengan mata uang asing yaitu Dolar Singapura di tempat penukaran uang (money changer) PT SLY Danamas. Masing-masing sebesar SGD 20 ribu, SGD 60 ribu, dan SGD 20 ribu. Selanjutnya terdakwa menukarkan mata uang Dolar Singapura di PT Jala Exchange Sejahtera sebanyak sembilan kali dengan total penukaran berjumlah Rp 1,597 miliar.(co/r7)