Abaikan Perwali, Tim Anggap Videotron Pahlawan Sesuai Aturan

Surabaya,(DOC) – Meski mendapat sorotan tajam dari lembaga Legeslatif, namun reklame jenis videotron di Jl Pahlawan yang mengganggu pengguna jalan, tetap dibiarkan berdiri.
Lemahnya tim reklame untuk menegakkan Perwali no 79 tahun 2012 tentang penataan reklame, jelas diperlihatkan disini. Terbukti dengan temuan pelanggaran oleh Komisi C, terkait konstruksi bangunan diatas trotoar yang masuk wilayah ruang milik jalan(Rumija), hanya didiamkan saja.

Tindakan yang telah dilakukan, yaitu, mematikan sinar lampu reklame jenis videotron milik perusahaan advertising Macth Ad di Jl Pahlawan. Setelah seminggu berjalan, kini reklame itu beroperasi normal. Dengan demikian pengguna jalan akan terganggu lagi.

Ali Murtadho salah satu anggota tim reklame dinas Cipta Karya dan Tata Ruang(DCKTR), ketika di konfirmasi menyangkal jika reklame canggih tersebut, menyalahi aturan.
Seluruh persyaratan perijinan, mulai dari ukuran hingga lokasi pendiriannya, telah dianggap memenuhi syarat.

“Tidak ada masalah, ijinnya juga lengkap, baik ukuran maupun lokasi pendirian konstruksi bangunannya, dan yang perlu diketahui adalah bahwa reklame tersebut masuk dalam area yang tidak masuk dalam wilayah penataan pembkot Surabaya, kalau soal sinar yang katanya menyilaukan, itu telah diserahkan kajiannya kepada Dishub,” jawab Ali.

Menanggapi hal itu, Simon Lekatompessy wakil ketua komisi C DPRD Surabaya menyatakan tim reklame telah melanggar aturan yang telah dikeluarkan oleh Walikota Surabaya. Apalagi bentuk pelanggarannya sangat jelas namun tanpa ada tindakan.

“Kalau tim reklame sudah berani melanggar aturan yang dibuat walikotanya sendiri, lantas siapa yang bisa dipercaya untuk menertibkan, secara kasat mata sudah jelas bahwa keberadaan reklame itu melanggar aturan Perwali, jangan berdalih tidak masuk penataan. Perwali ini sudah tinggi tidak ada aturan lain soal penataan reklame. Jika tetap dibiarkan, saya akan tanyakan ke walikota langsung,” ungkap Simon,Kamis(3/10/2013).

Sementara beberapa pengamat soal reklame juga sangat menyayangkan sikap tim reklame yang tetap ngotot untuk mempertahankan papan reklame jenis videotron di Jl Pahlawan karena bisa memberikan kesan yang miring terhadap tim reklame yang selama ini diberikan wewenang untuk penataannya.

“Pernyataan tim reklame yang berdalih bahwa area itu tidak masuk dalam wilayah penataan kota itu justru mengesankan bahwa tim reklame telah berpihak kepada pengusaha ketimbang kepentingan masyarakat terutama pengendara, tentu ini menjadi preseden buruk bagi pemkot Surabaya karena sejumlah oknum yang masuk dalam tim reklame telah berani dan sengaja melanggar perwali sebagai satu-satunya aturan yang legal di kota ini,”tegas Gatot S.Widodo alumnus Unair ini.

Lebih lanjut Gatot juga mengatakan bahwa jika tim reklame hanya berorientasi kepada pemasukan PAD tetapi tidak mempertibangkan dampak social yang ditimbulkan maka bisa memicu keresahan masyarakat sekaligus memancing tindakan anarkis terhadap papan reklame yang didirikan.

“Harusnya tim reklame pemkot Surabaya tetap harus mempertimbangkan dampak social yang ditimbulkan, jangan hanya berorientasi kepada pemasukan PAD tetapi kepentingan masyarakat pengguna jalan di abaikan, maka jangan salahkan masyarakat jika tiba-tiba ada yang berbuat usil dengan tujuan merusak papan reklame itu, karena aparatnya dianggap tidak berfungsi,” imbuhnya.(r7)