Ajak Siswa Surabaya Peduli Lingkungan Melalui Eco School 2013

Surabaya, (DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya mengajak siswa-siswi di Kota Pahlawan untuk memiliki kepedulian pada penyelamatan lingkungan. Salah satu upaya untuk menyadarkan anak sekolahan perihal pentingnya penyelamatan lingkungan, diwujudkan melalui pembentukan sekolah- sekolah yang berbasis Eco School.
Sudah banyak sekolah di Kota Surabaya mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTS) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) yang berstatus Surabaya Eco School 2013. Salah satunya SMA Negeri (SMAN) 3 Surabaya yang pada Jumat (13/9/2013) kemarin mendapat kunjungan dari Walikota Surabaya, Ir Tri Rismaharini MT.
Kepada siswa-siswi yang berkumpul di halaman “green house” di SMA Negeri 3 Surabaya dan antusias meneriakkan yel-yel tentang cinta lingkungan, Walikota Risma menjelaskan tentang alasan mengapa semua pihak harus peduli pada lingkungan. Walikota Risma menjelaskan ancaman habisnya bahan bakar minyak pada tahun 2020 mendatang jika tidak dilakukan langkah penghematan mulai sekarang. Begitu juga bahaya sampah jika tidak dikelola dengan baik, akan membuat bumi semakin panas di tahun-tahun mendatang.
“Karena itu kita adakan Eco School agar anak-anak ku semua memiliki kepedulian untuk ikut menjaga lingkungan. Kita harus memberikan contoh dengan memulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain,” ujar Walikota Risma kepada ratusan siswa yang membawa spanduk-spanduk bertuliskan kampanye peduli lingkungan.
Walikota Risma yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Ikhsan dan Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhamad Fikser,sangat menikmati kunjungannya ke SMAN 3 Surabaya. Beberapa kali, orang nomor satu di jajaran pemerintahan Kota Surabaya ini mengajak siswa-siswi berdiskusi dan memberikan pertanyaan tentang lingkungan. Walikota Risma bersama murid-murid SMAN 3, juga melakukan penanaman pohon dan membuat beberapa lubang resapan biopori di area sekolah. Caranya, tanah dilubangi dengan menggunakan peralatan berdiameter tiap lubang berkisar 10 cm dengan kedalaman satu meter. Lubang yang ada selanjutnya diisi sampah organik.
“Pembuatan lubang resapan biopori ini penting untuk mencegah banjir, meresapkan air tanah, mengomposkan sampah organic dan juga menyuburkan tanah sebagai bagian dari Surabaya Eco School,” jelas Walikota Risma.
Kepala Dispendik Kota Surabaya, Ikhsan mengapresiasi positif kegiatan road show Surabaya Eco School 2013 yang juga melibatkan aktivis peduli lingkungan, Tunas Hijau ini. Dikatakan Ikhsan, hingga kini, sudah ada 1560 sekolah di Surabaya yang menjadi peserta Eco School.
“Jumlah itu tentunya luar biasa. Dengan anak-anak sekolah mulai diajarkan cinta lingkungan dan kebersihan, mudah-mudahan kebiasaan itu terbawa ke rumah sehingga anak-anak bisa hidup bersih dan menjaga lingkung sekitar rumah. Diharapkan, mereka jadi kader lingkungan Surabaya sehingga ke depan, Surabaya jadi makin bersih, hijau dan nyaman untuk tempat tinggal kita semua,” tegas Ikhsan yang bersama murid ikut membuat lubang biopori.
Tidak hanya membudayakan hidup bersih dan cinta lingkungan, Ikhsan juga berharap anak-anak juga bisa berpikir inovatif. Dia mencontohkan sampah. Jika berpikir inovatif, sampah-sampah dari bekas pemakaian rumah tangga atau di sekolah, bisa diolah menjadi lebih bermanfaat.
“Dengan Eco School, semoga membuat anak-anak bisa memanfaatkan barang-barang bekas dan menghasilkan produk-produk baru yang bermanfaat,” sambung Ikhsan.
Pihak SMAN 3 Surabaya memang proaktif dalam mewujudkan sekolah mereka sebagai Eco School. Kepala Sekolah SMAN III Surabaya Johannes Mardijono mengatakan, pihaknya menargetkan penanaman puluhan pohon dan ratusan resapan air di lingkungan sekolah yang dipimpinnya. “Target kami, ada 600 lubang resapan biopori di sekolah kami,” ujar Johannes.
Salah satu guru SMAN 3 Surabaya, Restu menambahkan, pihak sekolah selama ini sangat concern daam menggalakkan kebersihan dan kepedulian lingkungan kepada siswa. Diantaranya melalui penyediaan tempat sampah di mana di setiap kelas ada tiga tempat sampah untuk jenis sampah berbeda. Para murid juga diajarkan cara pengolahan kompos, pembuatan lubang resapan biopora yang diajarkan melalui pendidikan lingkungan hidup.
“Sehingga siswa memiliki kesadaran untuk ikut menjaga lingkungan. Utamanya dalam penggunaan plastic. Target kami adalah meminimalisir penggunaan plastik di sekolah karena kalau untuk sekolah Adiwiyata kan harus bebas plastic. Kita masih dalam arah ke sana,” ujar Restu.
Sekolah-sekolah di Kota Surabaya dari mulai tingkat SD ataus ederajat hingga tingkat SMA atau sederajat, memang antusias dalam mengikuti program Surabaya Eco School 2013 ini. Pihak Tunas Hijau selaku penggagas, memang mengundang seluruh sekolah untuk terlibat dalam kegiataan cinta lingkungan ini. Sebelumnya, pihak sekolah harus mengikuti workshop seperti mencari kader lingkungan, membuat satu tim dan memberikan pengarahan pengelolaan sampah. “Kalau work shop nya bagus, maka kami akan mendatangi sekolahnya dan berdiskusi,” ujar Satuman dari Tunas Hijau.(r4)