Akhir September, Kritis Ekonomi Terlewati

Tidak ada komentar 165 views

Jakarta, (DOC) — Ekonomi Indonesia yang terengah-engah ka­rena tekanan bertubi-tubi, se­per­tinya akan mendapat ke­sem­patan bernafas. Hasil kajian Bank Indonesia (BI) menun­jukkan, titik kritis gejolak ekono­mi akan terlewati usai September ini.
Direktur Eksekutif Direk­torat Komunikasi BI Difi Johan­syah mengatakan, berbagai parameter ekonomi menunjukkan sinyal-sinyal perbaikan mulai Oktober nanti. ”Neraca pemba­yaran, nilai tukar rupiah, dan inflasi, semua diproyeksi mem­baik,” ujarnya kepada JPNN, kemarin (14/9/2013).
Menurut Difi, perbaikan neraca pembayaran akan dipe­ngaruhi defisit neraca dagang migas yang mengecil. Pada Juli, defisit migas memang besar karena Pertamina banyak meng­impor BBM untuk mengaman­kan stok lebaran. ”Ternyata, realisasi konsumsi BBM saat Lebaran juga di bawah proyeksi Pertamina (rendah). Artinya, strategi menaikkan harga BBM untuk menekan konsumsi cu­kup berhasil,” katanya.
Karena itu, lanjut dia, kon­sumsi BBM bersubsidi diper­kirakan tidak akan mengalami lonjakan usai arus mudik dan arus balik Lebaran, sehingga impor BBM pada Agustus pun diproyeksi tidak akan setinggi impor Juli. ”Ini akan meri­ngankan defisit transaksi ber­jalan,” ucapnya.
Sebagaimana diketahui, ang­­ka ekspor-impor Juli baru diumumkan Badan Pusat Statis­tik (BPS) pada awal September. Sedangkan realisasi ekspor-impor Agustus baru akan di­umumkan BPS awal Oktober nanti. Membaiknya data tran­saksi berjalan akan menjadi sentimen positif bagi Indonesia di mata investor.
Difi mengatakan, defisit transaksi berjalan yang menjadi titik lemah utama pereko­no­mian Indonesia juga diproyeksi akan membaik seiring mele­mah­nya permintaan domestik dan berbagai kebijakan peme­rin­tah untuk mengerem impor. ”Survei indeks penjualan eceran yang turun mengonfirmasi pe­lema­han konsumsi domestik,” jelasnya.
Terkait inflasi, kata Difi, puncaknya sudah terlewati pada Juli lalu ketika melonjak hingga 3,29 persen. Pada Agustus, inflasi melandai di level 1,12 persen dan diperkirakan akan makin landai mulai September ini. ”Pengaruh inflasi musiman karena Lebaran sudah jauh berkurang, demikian juga pe­ngaruh inflasi akibat kenaikan harga BBM pada Juni lalu,” ujarnya.
Bagaimana dengan rupiah? Menurut Difi, fluktuasi nilai tukar sangat dipengaruhi oleh fundamental perekonomian Indonesia. Karena itu, seiring dengan membaiknya fundamental ekonomi seperti tran­saksi berjalan dan inflasi, maka tekanan terhadap rupiah pun diperkirakan akan berangsur mereda. ”Selain itu, akhir-akhir ini pasar valas antar bank mulai aktif lagi. Artinya, bank-bank yang dulu menyimpan dolarnya, sekarang mulai berani melepas ke pasar,” terangnya.
Karena itulah, lanjut dia, Rupiah yang sebelumnya selalu dalan tren depresiasi, kini dalam beberapa kesempatan sudah mulai menunjukkan penguatan. Fluktuasi selama ini pun diang­gap BI masih sejalan dengan fundamental perekonomian Indonesia. ”BI juga akan tetap melan­jutkan langkah-langkah stabili­sa­si nilai tukar,” katanya.
Sebagai gambaran, berdasar data BI yang mengacu Jakarta In­terbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor), rupiah yang pada Ra­bu dan Kamis lalu melemah sig­nifikan sebesar 314 poin hing­ga menyentuh level 11.949 per USD, pada Jumat (13/9) me­nguat ke posisi 11.395 per USD.
Sementara itu, di pasar spot, data kompilasi Bloomberg me­nun­jukkan Jumat lalu rupiah menguat 118 poin atau 1,04 persen dan ditutup di level 11.232 per USD. Penguatan terhadap USD tersebut meru­pakan yang terbesar dibanding­kan mata uang utama di seluruh dunia.
Lalu, bagaimana kinerja perbankan? Difi mengakui, berbagai gejolak ekonomi saat ini membuat BI mengetatkan kebijakan moneter, termasuk dengan mengerek BI Rate. Hal itu sekaligus sebagai respons atas tingginya ekspansi kredit perbankan sepanjang paro per­ta­ma tahun ini. ”Dampaknya, laju pertumbuhan kredit me­mang akan melambat, tapi itu baik bagi perbankan saat ini,” ucapnya.
Berbagai indikator juga me­nunjukkan bahwa saat ini kon­disi perbankan di Indonesia se­cara umum cukup solid. Itu tecermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang mencapai 18 persen, jauh di atas ketentuan minimum 8 persen. Kualitas kredit juga cukup baik dengan angka nonperforming loan (NPL) gross atau kredit macet sebesar 1,9 persen.
Meski demikian, lanjut Difi, pemerintah, BI, dan para pelaku usaha juga masih harus men­cermati potensi gejolak lanjutan yang berasal dari eksternal. Dia menyebut, tappering off atau pengurangan quantitative easing oleh bank sentral AS The Fed masih belum bisa dipastikan kapan dilakukan dan berapa besarannya. (ped/r4)