Alternatif Usaha Warga Eks Lokalisasi

Tidak ada komentar 131 views

Surabaya, (DOC) – Sejauh ada kemauan pasti ada jalan. Pepatah itulah yang paling tepat menggambarkan perjuangan para mantan pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari di Dupak Bangunsari. Penutupan lokalisasi setahun silam bukannya membunuh peluang usaha. Kini mereka malah aktif terlibat dalam bisnis baru yang tentunya halal.
Sebuah rumah di Jl. Dupak Bangunsari 4/7 terlihat sangat sibuk. Puluhan ibu-ibu berseliweran keluar-masuk bangunan berpagar kuning itu. Ternyata, di dalamnya merupakan tempat produksi hasil olahan pangan kemasan. Pengelolaan usaha level home industri tersebut dibawah bendera Kube (kelompok usaha bersama) Dupak Makmur Bersama.
Jika menilik sejarah lokasi Dupak Bangunsari beberapa tahun lalu, siapa sangka bakal ada usaha produksi makanan kemasan. Maklum saja, area tersebut memang dikenal sebagai salah satu kawasan prostitusi di Surabaya. Pastinya, bisnis yang mendominasi adalah wisma dan karaoke. Tapi, keadaan berbalik 180 derajat. Perlahan tapi pasti, setelah penutupan warga mulai mencari peluang usaha baru. Satu per satu tempat usaha bermunculan.
Kube Dupak Makmur Bersama memang bukan satu-satunya home industri yang berdiri pasca penutupan lokalisasi. Kembang Melati yang berjarak beberapa gang, lebih dulu diresmikan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pada 28 Juni 2013. Bedanya, produk unggulan Kembang Melati adalah karpet, pernak-pernik dan hiasan jilbab. Sedangkan Dupak Makmur Bersama fokus pada Ketua Kube Dupak Makmur Bersama, Nur Aini menjelaskan pihaknya mengembangkan dua macam bahan dasar, yakni hasil olahan ikan dan wuluh. Masing-masing bisa mencapai 12 jenis produk. Seperti abon tuna, abon lele, wader remes, pangsit lele, dan lain sebagainya. Sementara untuk wuluh ada cake wuluh yang jadi ikon.
Dari segi pengelolaan, Dupak Makmur Bersama bisa dibilang tidak main-main. Hal ini bisa dilihat dari adanya struktur organisasi yang jelas. Mulai ketua hingga pembagian divisi yang berjumlah lima, diantaranya divisi udang dan wader, otak-otak bandeng, bandeng presto, abon lele, serta rumah produksi. Total pekerja tetap yang ada di sana berjumlah 26 orang. Beberapa diantaranya mantan PSK dan mucikari.
Mereka membaur dengan ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumahPengelolaan yang baik serta kegigihan dalam menjalankan usaha menjadi kunci sukses usaha Dupak Makmur Bersama. Alhasil, ungkap Nur Aini, omzet bersih per bulan yang sekarang bisa dikumpulkan rata-rata berkisar Rp 10 juta. “Itu belum termasuk kalau kami mengikuti pameranbiasanya bisa meraup Rp 5 juta per event,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Surabaya, Sigit Sugiharsono menyatakan, Pemkot Surabaya terus memberikan dukungan terhadap proses alih profesi mantan pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari pasca penutupan lokalisasi. Seperti dalam hal ini, Distan Surabaya membantu menyampaikan proposal warga Dupak Bangunsari kepada Kementerian Kelautan.
Nah, dari situ, warga akhirnya mendapat bantuan berupa alat-alat produksi total senilai Rp 50 juta. Peralatan yang dimaksud meliputi oven, alat penggorengan, freezer besar, mesin pengaduk dan vacum sealer. Kesemuanya berjumlah 18 jenis alat. “Selain membantu menjembatani kebutuhan warga dengan kementerian, Distan juga intens melakukan pendampingan melalui program pelatihan bagaimana cara mengolah hasil ikan yang baik dan benar,” terang mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga tersebut. (r4)