Alwari Jatim Kecam Pemukulan Anggota TNI AU terhadap Wartawan

Surabaya (DOC) – Aliansi Wartawan Radio Indonesia Jawa Timur mengecam  tindakan arogansi yang dilakukan oleh prajurit TNI AU di insiden jatuhnya pesawat Hawk 200 di Riau. Tindakan yang dilakukan prajurit AURI ini sangat disayangkan terlebih sudah melanggar Undang – Undang Pers. Terlebih ulah brutal ini dinilai memalukan institusi keamanan negara dikarenakan dilakukan dihadapan anak – anak.

Ketua Aliansi Wartawan Radio Indonesia Jawa Timur, Septa Rudianto, mengatakan, aksi brutal yang dilakukan oleh Prajurit TNI AU di Riau semakin menambah tindakan negatif penegak hukum secara jelas melanggar Undang – Undang 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers. Tercatat secara jelas di produk hukum tersebut, bahwa instansi atau pihak manapun tidak diperkankan menghambat kerja jurnalistik.

Pemukulan terhadap enam wartawan yang mendapat tindakan kekerasan oknum AURI tersebut antara lain  Didik (Riau Pos), Ryan Fb Anggoro (LKBN Antara), Ari Nadem (Tv-One), dan Robi (RTv). Selain wartawan, dua mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) juga ditinju oknum anggota TNI AU karena kedapatan mengambil foto bangkai pesawat Hawk 200 yang jatuh di samping rumah warga “  Ini insiden yang harus disikapi oleh Kepala Staf Angkatan Udara, pemukulan terhadap wartawan dalam melakukan tugas jurnalistiknya sangat jelas melanggar Undang – Undang,” unkapnya

Setelah menjadi korban pemukulan oleh prajurit TNI AU, Didik Herwanto, seorang pewarta foto Riau Pos telah melaporkan secara resmi kasus kekerasan terhadapnya ke POM AU di Kantor Satuan Polisi Militer Lanud Roesmin Nurjadin. Surat pengaduan tersebut bernomor POM-434/A/IDIK-01/X/2012/Rsn.
Pemukulan yang dilakukan anggota TNI adalah pelanggaran terhadap UU Pers. Hal itu termuat pada UU Nomor 40 Tahun 1999 pasal 4 ayat (2) yang berbunyi terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelanggaran penyiaran. Pelanggaran pasal ini diancam dengan hukuman penjara dua tahun atau denda Rp500 juta.
Selain itu juga tercantum pada pasal 18 ayat (1) yang berbunyi: (1)Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja dan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
“ Kami berharap pucuk pimpinan TNI AU memproses dan menindak tegas pelaku insiden pemukulan terhadap wartawan, ini sebagai upaya tidak ada lagi tindakan serupa terjadi di instansi penegak hukum, apapun pangkat dan jabatannya, tugas jurnalistik harus dilindungi, Pemerintah harus menjaminnya,” tegas Septa.

Pesawat Hawk 200 buatan Inggris milik TNI AU itu jatuh secara tiba-tiba dan menghebohkan warga sekitar. Pesawat yang dipiloti Reza Yuli Pradibyo itu sedang melakukan latihan rutin dan sempat oleng sebelum jatuh. Pilot berhasil selamat karena keluar menggunakan kursi lontar. (R-11)