Ancaman Kecurangan Manipulasi Suara

Tidak ada komentar 137 views

Jakarta, (DOC) – Manipulasi suara menjadi salah satu bentuk kecurangan yang patut diwaspadai pada Pemilu 2014.
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Jimly Asshiddiqie mengatakan adanya potensi penjualan jasa pemenangan oleh penyelenggara pemilu kepada peserta pemilu. “Bukan tidak mungkin jika ada oknum penyelenggara pemilu menawarkan jasa pemenangan bagi para calon anggota legislatif dan hal itu melanggar kode etik,” ujarnya.
Jimly mengingatkan penyelenggara pemilu harus berhati-hati terhadap kemungkinan jual beli suara, salah satu kode etik yang harus dipatuhi penyelenggara pemilu adalah tidak boleh berpihak pada partai politik. “Jika oknum tersebut terbukti menerima uang, kasunya akan ditangani pihak kepolisian,” tegas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.
Komisioner Bawaslu, Daniel Zuchron mengatakan, manipulasi suara masih menjadi ancaman pada pemilu legislatif 2014. “Manipulasi suara berupa mencoblos surat suara sebelum digunakan, menggunakan lebih surat suara padahal tidak ada kerusakan, dan memanfaatkan surat suara yang tidak terpakai untuk dicoblos. Ini mungkin dilakukan oleh oknum penyelenggara pemilu,” paparnya.
Daniel menambahkan, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) diharapkan juga ikut mengawasi kemungkinan adanya praktik jual beli suara oleh oknum penyelenggara pemilu.
Berdasarkan data Bawaslu, daerah yang rawan terjadinya manipulasi suara adalah wilayah yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi dan daerah konflik. Dari 6.524 kecamatan di seluruh Indonesia, terdapat 729 kecamatan yang sangat rawan dan 1.422 kecamatan yang rawan.
Sementara itu selama 20 bulan berdirinya DKPP, sebanyak 126 penyelenggara pemilu di pecat karena terbukti melanggar kode etik, dan 100 penyelenggara pemilu yang mendapatkan peringatan. (r4)