Anggap Dewan Keliru Soal Penangan Limbah Mall Cito

Surabaya,(DOC) – Manajamen Mal City of Tomorrow (Cito) tak mau disalahkan oleh Komisi D DPRD kota Surabaya yang melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di SDN Dukuh Menanggal Selasa (6/9/2016) kemarin, karena system pengolahan limbah bermasalah.

Usai anggota dewan meninggalkan lokasi Sidak, Managemen Cito langsung melakukan evaluasi dan hasilnya, tudingan para wakil rakyat itu, atas buruknya penanganan limbah Mal Cito tak terbukti.

Menurut Manajer Marketing Cito, Indra Kurniawan, limbah yang dihasilkan Cito hanyalah limbah padat (sampah). Sementara penanganan sampah itupun sudah dilakukan sesuai prosedur. “Kami tidak pernah menimbun sampah dalam waktu lama. Sebab setiap hari selalu kami buang. Itupun intensitasnya sampai dua kali. Jumlah juga sedikit. Tidak sampai satu mobil pickap,”katanya, Rabu(7/9/2016).

Ia menampik bahwa telah melakukan kesalahan dalam penganan limbah tersebut. Kalaupun muncul bau tidak sedap, menurut Indra, kemungkinan terjadi pada saat sampah diangkut untuk dibuang. “Sehingga bau menyebar, terbawa angin dan masuk ke ruang kelas SDN Dukuh Menanggal I,” katanya.

Indra menjelaskan, sebenarnya persoalan bau tak sedap ini, sudah pernah dikomunikasikan dengan pihak sekolah. Saat itu muncul permintaan bantuan AC, agar ruang belajar tertutup dan terhindar dari bau sampah. “Muncul Ide kelas harus tertutup, sehingga pihak Cito memberikan bantuan AC kepada sekolah. Tapi batal, karena pihak sekolah menolaknya dengan alasan tidak jelas,” jelasnya.

Pihak sekolah memilih memasang kipas angin, hasil bantuan dari orang tua siswa. Namun, menurut Indra, usaha tersebut tetap tidak maksimal, karena bau busuk tetap masuk ke kelas. “Kami juga tidak tahu, kenapa tidak mau. Padahal sebelumnya setuju. Padahal, untuk rungan cukup besar dengan jumlah siswa 30, AC ini perlu. Kalau hanya kipas angin pasti tidak maksimal. Apalagi suhu Surabaya cukup panas, rata-rata 37-38 derajat, sehingga jendela tetap dibuka,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya mengaku siap bilamana sekolah mengajak berkomunikasi lagi. Manajamen Cito, lanjut Indra, akan selalu kooperatif dan peduli terhadap semua keluhan. “Di samping itu, kami juga terus melakukan  evaluasi, pembersihan dan treatmen terhadap penangan limbah ini,”katanya.

Kembali dijelaskan Indra, pengelolaan limbah di Mal Cito dikelola oleh pihak ketiga. Meski begitu, dia memastikan bahwa tidak ada yang salah dalam pengelolaannya. “Kalau ada yang tidak benar pasti kita tegur. Tetapi rasanya ini tidak ada,”aku Indra.

Sementara itu, disinggung mengenai klaim Komisi D DPRD Surabaya bahwa Cito tidak kooperatif, Indra membantah. Dia mengaku tidak pernah mendapat undangan hearing seperti yang disampaikan Komisi D DPRD tersebut. “Setahu kami undangan baru sekali. Yakni Selasa lalu. Itupun waktunya pemet. Sehingga kami tidak bisa hadir,”tuturnya.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya BF Sutadi tidak menampik bahwa bau busuk dari limbah Cito bersifat temporer. Artinya, hanya muncul pada saat-saat tertentu saja. Meski begitu, pihaknya tetap berharap ada perbaikan lagi. Sehingga bau tak lagi ada, sekalipun bersifat temporer. “Bau itu muncul karena bak penampungan penuh. Hasil pengecekan kami, kapasitas tampung cukup kecil. Tidak sebanding dengan produksi limbah yang ada. Kapasitasnya hanya 50 meter kibik. Sementara volume limbah mencapai 250 meter kubik/hari,” ungkap Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD kota Surabaya ini.

Pihaknya berharap pengolahan limbah harus maksimal. Sebelum dibuang ke tempat penampungan, paling tidak ada proses pengelolaan lanjutan. Sehingga kapasitas tampung tidak overload. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan BLH (Badan Lingkungan Hidup) atas masalah ini. Kami minta ada edukasi. Sehingga tidak ada pencemaran lagi,”pungkas mantan Asissten 1 Sekkota ini.(ih/r7)