Ansor Dukung Perda Miras, Oknum Media Alihkan Opini

Tidak ada komentar 142 views

Surabaya,(DOC) – Upaya pembahasan Raperda Pengendalian Minuman Beralkohol yang dibahas Pansus DPRD Surabaya, mulai digembosi pihak-pihak yang merasa sangat dirugikan. Kabarnya, ada gelontoran sejumlah rupiah untuk membelokan pengaturan peredaran minuman keras (Miras). Tujuannya agar penjualan miras itu tak dilarang di tempat rekreasi dan hiburan umum (RHU) serta retail yang tersebar di Surabaya.
Bahkan informasi yang berkembang di DPRD Surabaya, Pansus Raperda itu sudah didekati pengusaha yang tak ingin miras dilarang melalui oknum wartawan. Oknum itu mengarahkan kepada pihak Pansus agar miras yang diatur itu hanya jenis cukrik saja. Alasannya, cukrik itulah yang selama ini banyak memakan korban jiwa karena oplosannya.
Ketua Pansus Raperda Pengendalian Minuman Beralkohol Blegur Prijanggono mengatakan, pihaknya tak mau diintervensi siapapun terkait pembahasan tersebut. Apalagi hanya memasukan cukrik dalam Raperda tersebut, sementara minuman beralkohol lainnya tak dimasukan atau tak diatur.
“Regulasi yang kita bahas ini mengatur semuanya, tak hanya satu jenis miras saja. Apalagi cukrik itu sudah diatur tersendiri, karena cukrik itu merupakan minuman oplosan. Kita sendiri sudah tahu kalau minuman beralkohol itu masih dijual bebas di tempat manapun. Dan siapapun bisa membelinya tanpa ada screening yang jelas. Inilah yang kita atur dan tak ada pembedaan apapun. Terkait adanya ‘utusan’ yang ingin menggembosi Pansus, kita akui sudah ada,” tandas Blegur, Rabu(26/3/2014) lusa kemarin.
Blegur menegaskan, di hotel, di restoran, minimarket dan lainnya, saat ini sangat mudah menemukan miras. Yang bisa menjualnya adalah Miras yang diatur itu juga yang termasuk minuman beralkohol yang terdata di Balai POM dan memiliki cukai. Dalam aturan itu juga akan membentuk asosiasi yang mengawasi penjualan minuman beralkohol, mereka ini bisa saja dari importir miras yang mengetahui berapa kebutuhan miras di Surabaya.
Sementara, di sebuah media cetak menurunkan pemberitaan tentang bantahan agar tak ada pengaturan miras di Surabaya. Organisasi non-profit yang bergerak dalam pendampingan terhadap korban narkotika dan obat terlarang di Jatim menyatakan jika regulasi yang mengatur dan melarang peredaran dan penjualan miras beralkohol sangatlah tidak efektif. Alasannya, meminum miras ini sudah menjadi kebiasaan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia.
Dalam statemennya, dikatakan, tidak semua orang yang meminum minuman keras itu untuk mabuk. Meminum minuman keras seperti wine hanyalah untuk rekreasi dan melepaskan diri dari kepenatan.
Bagi Ketua Ansor Surabaya M Asrori menegaskan, masalah pengaturan peredaran dan penjualan miras itu tak bisa dikatakan tidak efektif. Justru itu sangat efektif agar tak dijual bebas. Apalagi jika dikaitkan dengan penjelentrehan bahwa meminum miras itu sudah jadi kebiasaan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia.
“Kita ingatkan, masalah meminum miras tradisional ini hanyalah budaya, bukan kebiasaan. Apalagi dikatakan minum miras itu hanya untuk rekreasi dan menghilangkan kepenatan, itu sudah tidak masuk akal. Seolah tak ada agama yang mengatur keimanan seseorang jika miras itu untuk rekreasi dan menghilangkan kepenatan. Kita sangat mendukung aturan itu,” kata Asrori.
Asrori mengaku, pihaknya siap mengawal pembuatan regulasi pengendalian miras. Dia menegaskan, dampak miras itu sudah jelas lebih banyak mudoratnya daripada manfaatnya.(r4/r7)