Antisipasi Antrax, Kecamatan di Surabaya Kendalikan Sentra Hewan Kurban

 Kesra

Surabaya (DOC) – Sudah menjadi kebiasaan tahunan, Surabaya selalu menjadi jujugan para pedagang hewan kurban dari banyak daerah di Jatim dan bahkan luar provinsi. Bersamaan makin dekatnya Hari Raya Idul Adha, jumlah mereka yang berharap menangguk untung terus bertambah.

Kondisi ini bukan saja disikapi Dinas Perikanan Kelautan Peternakan Pertanian dan Kehutanan Surabaya. Kecamatan juga merespon serius pedagang tahunan tersebut.

Kecamatan Rungkut, misalnya. “Dari tahun ke tahun jumlah penjual hewan kurban di wilayah Rungkut selalu bertambah. Mereka jualan di tepian jalan protokol maupun jalan di pemukiman,” kata Camat Rungkut, Ridwan Mubarun, tadi.

Tidak ingin keberadaan titik penjualan hewan kurban tak terpantau, kecamatan tersebut membuat sentra penjualan hewan kurban. “Tiap kelurahan maksimal hanya boleh ada dua titik sentra penjual hewan kurban. Karena itu, tiap titik sentra memerlukan lahan yang luas,” sambungnya.

Pembatasan untuk memudahkan kontrol, menjaga keamanan pedagang, termasuk memudahkan petugas Dinas Perikanan Kelautan Peternakan Pertanian dan Kehutanan  Surabaya memeriksa kesehatan hewan kurban.

“Tiap titik sentra pedagang hewan kurban terbagi menjadi beberapa kaveling yang bisa disekat antarpedagang. Pengelolaan kaveling dilakukan LKMK (Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan ). Di dalamnya ada Babinkamtibmas (Bintara Pembina Keamanan Ketertiban Masyarakat, unsur Polri), Babinsa (Bintara Pembina Desa, unsur TNI AD) dan lainnya,” papar mantan Sekcam Rungkut ini.

Sementara itu, tahun ini Dinas Perikanan Kelautan Peternakan Pertanian dan Kehutanan Surabaya memberlakukan kebijakan sama, menolak masuknya hewan kurban dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Tengah (Jateng).
Hewan-hewan dari dua daerah itu dianggap masih rawan penyakit anthrax.

“Penolakan ini juga sebagai bentuk kewaspadaan dan perlindungan pada warga Surabaya,” tandas Kepala Bidang Peternakan Dinas Perikanan, Pertanian dan Peternakan Surabaya, drh Meta Irene Wowor. Meta mengakui banyak pedagang dari luar daerah yang selalu menjadikan Surabaya sebagai tujuan berjualan.

“Besok (hari ini) kami akan mengumpulkan camat-camat untuk membahas pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban di wilayah kecamatan,” tukas Meta.

Camat juga akan dipesan agar tidak sebatas memantau di sentra penjualan, namun juga tempat pemotongan. Ini terkait kewaspadaan penyakit antrax serta penyakit kuku mulut.

Data dinas menyebutkan, selama Idul Adha tahun lalu Surabaya memerlukan sapi sekitar 4.000 ekor sapi dan sekitar 14.000 ekor kambing untuk pelaksanaan kurban. (K-7/R 6)