Antisipasi Wabah Flu Burung, Dinas Pertanian Bentuk Kader Vaksinasi

Surabaya (DOC) – Dinas Pertanian Kota Surabaya berencana melakukan penyuluhan unggas yang ada di Surabaya. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi adanya virus flu burung seiring mulai datangnya musim penghujan.

Menurut Kepala Dinas Pertanian kota Srabaya, Syamsul Arifin, saat ini pihaknya telah membentuk kader vaksinasi di setiap kelurahan yang ada di Surabaya. Kendati sejauh ini belum ditemukan ada ayam atau unggas yang mati karena flu burung di Surabaya.

“Masyarakat sekarang sudah tanggap, saya juga berharap mereka lebih giat lagi dengan melakukan pengawasan. diantaranya  dengan aktif memberikan vitamin,” ujar Syamsul Arifin, Selasa (18/12/2012).

Syamsul Arifin menjelaskan, selain membentuk kader vaksinasi sebenarnya Dinas Pertanian juga telah membentuk tim khusus yang terdiri dari 15 orang. Dimana salah satu tugas tim tersebut adalah melakukan penyuluhan dan pengawasan terhadap unggas atau ayam yang ada di Surabaya.

Menurutnya, dibentuknya gugus terdepan dalam mengantisipasi mewabahnya flu burung didasarkan beberapa alasan. Salah satunya, dengan banyaknya ayam atau unggas yang masuk dari luar daerah seperti Kediri, Malang dan Pasuruan, maka satu satunya cara agar Surabaya terbebas dari virus yang lebih dikenal dengan nama H5N1 adalah dengan aktif melakukan vaksinasi.

“Bahkan di pasar juga sudah ada petugas khusus yang dilatih dalam melakukan penyemprotan,” cetusnya.

Syamsul mengungkapkan, dalam vaksinasi yang dilakukan Dinas Pertanian akan dilakukan secara bertahap. Salah satunya dengan mendahulukan wilayah Surabaya Barat. sebab pada tahun sebelumnya, wilayah seperti Benowo, Pakal dan Tandes terindikasi ada wabah flu burung.

Sementara ketika disinggung apakah akan dilakukan penyemprotan di pintu masuk kota Surabaya, guna mengantisipasi unggas atau ayam-ayam yang masuk dari luar daerah? secara tegas pria hitam manis itu membantahnya. Menurutnya tiap daerah sudah melakuan pengawasan sendiri-sendiri.

“Contohnya Kediri, mereka sekarang intensif dalam melakukan pengawasan. Sebab mereka tentu tidak mau kecolongan seperti dulu lagi,” tegas Syamsul Arifin.

Untuk diketahui pada tahun sebelumnya, pemerinah kota Surabaya membentuk tim gabunagn yang terdiri dari kecamatan, Puskesmas dan Dinas di Surabaya. Tugas utama tim tersebut adalah melakukan observasi lapangan terkait antisipasi penyebaran wabah flu burung.

Kala itu, tim gabungan hanya dibentuk di Surabaya Barat. Karena di kawasan Surabaya Barat diindikasikan ada wabah flu burung. Di tempat itu, banyak ditemukan unggas yang mati secara bersamaan. Karena tak ingin kecolongan, maka Dinas Pertanian langsung meresponnya.(K1/K4)