Awas Uang Palsu !!

Tidak ada komentar 483 views

Surabaya, (DOC)-Peredaran uang palsu di Jawa Timur dinyatakan cukup tinggi oleh Bank Indonesia setelah Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat.
Data dari Bank Indonesia, posisi Jawa Timur berada di peringkat ketiga dengan peredaran uang palsu sebanyak 9.065 lembar.
Direktur Eksekutif Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia (BI) – Gatot Sugiono menjelaskan, provinsi yang paling tinggi tingkat peredaran uang palsu yaitu Jabodetabek dan Banten sebanyak 16.831 lembar, kemudian disusul Jawa Barat 10.238, Jawa timur 9.065, Jawa Tengah 6.367 lembar, terakhir Lampung sebanyak 2.345 lembar.
Aktivitas ekonomi yang cukup besar diprovinsi Jawa Timur, dengan gambaran rutinitas dari transaksi sistem pembayaran tunai berjumlah besar, membuat Provinsi ini menjadi sasaran atas peredaran uang palsu.
“Ini indikasi kuat kalau Jatim merupakan daerah yang jadi sorotan peredaran Upal. Tiap tahun penemuan upal selalu meningkat, olehnya perlu sosialisasi peredaran uang antara BI dan Botasupal dengan level pertama seperti 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang, red),” ungkap Sugiono disela acara Semiloka dan Diskusi Panel bertajuk Arah dan Strategi Kebijakan Penanggulangan Pemalsuan Uang Rupiah Setelah Berlakunya UU No 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, Kamis (18/10/12).
Laporan perbankan pada triwulan II/2012, uang palsu yang beredar di Jatim mencapai 8.510 lembar yang terbagi dalam berbagai pecahan dengan nilai nominal sebesar Rp 702 juta. Jumlah ini meningkatv dibanding triwulan I/2012, yang hanya ditemukan sebanyak 5.597 lembar uang palsu dengan nilai sebesar Rp 489,71 juta.
Ditempat terpisah, Direktur Eksekutif Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV – Mochammad Ishak menyatakan, dari sekian banyak kota dan kabupaten di Jawa Timur, Kota Surabaya merupakan kota tertinggi dalam peredaran uang palsu. Hal ini dapat dilihat dari jumlah lembar uang palsu yang ditemukan meningkat sebesar 52,02 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
“Surabaya tertinggi di Jawa Timur, kemudian disusul Kediri, Malang dan Jember. Kondisi ini, lantaran Surabaya merupakan kota metropolis kedua dan menjadi pintu gerbang perdagangan Indonesia tengah dan timur.” ujar Mohammad Ishak.
Ishak menambahkan, upaya pemalsuan uang rupiah ini semakin canggih sehingga perlu penanganan yang lebih khusus dari berbagai pihak. Tindakan preventif yang kini tengah dilakukan BI yaitu mensosialisasikan secara terus menerus ke masyarakat tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah. mengingat sejak diberlakukan UU No.7 tahun 2011 tentang mata uang rupiah, penanganan uang rupiah palsu yang dilakukan oleh badan khusus yang beranggotakan dari berbagai instansi juga telah diatur didalamnya, selain aturan uang secara fisik.
Instansi terkait yang masuk kedalam badan khusus tersebut adalah Badan Intelejen Negara (BIN), Kepolisian Negara RI (Polri), Kejaksaan Agung (Kejagung), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia sendiri.
Seluruh wewenang dan tanggung jawabnya badan khusus ini, akan diatur sepenuhnya oleh Peraturan Presiden.
“Menghadapi maraknya pemalsuan tersebut, BI di wilayah Jatim bersama instansi berwenang terus berupaya melakukan penanggulangan yang bersifat preventif maupun represif,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi IV Badan Intelejen Negara (BIN) – Zaelani mencurigai, adanya motif lain dari peredaran uang rupiah palsu di negeri kita ini yang kian marak. Pelaku mengedarkan uang palsu ke berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya karena faktor ekonomi. namun lebih dari itu.
”Saat Perang Dunia II, Jerman sukses memalsukan mata uang Inggris untuk mengacaukan ekonomi Inggris. Hal serupa juga pernah terjadi di Indonesia pada sekitar tahun 1970-an yakni ditemukannya uang palsu buatan luar negeri beredar di Indonesia,”Tandasnya.
Beredarnya uang palsu di Jawa Timur ini memang sangat menguatirkan banyak pihak termasuk Polda Jawa Timur yang mengungkap temuan berbeda dengan data yang dihimpun oleh Bank Indonesia. Dalam kurun waktu yang sama, Polda Jawa Timur mencatat peredaran uang palsu yang berhasil di temukan yaitu sebanyak 2.675 lembar atau senilai Rp 210 juta.(k1/R7)