Bantu Warga Dapatkan Buku Nikah

Tidak ada komentar 174 views

Surabaya,(DOC) – Raut muka Yusuf terlihat tegang demi berhadapan dengan penghulu. Pandangan matanya malu-malu ketika cahaya blitz kamera wartawan yang terus menjepret dirinya. Sesekali dia membetulkan posisi kopiahnya yang tidak miring. Namun, ketegangan pria 34 tahun ini seketika mencair begitu prosesi akad nikah selesai, diikuti ucapan kata “sah” dari beberapa saksi nikah yang hadir.
“Alhamdulillah, saya sekarang sudah menjadi suami. Rasanya lega dan bahagia,” ujar Yusuf yang sudah bisa tersenyum.
Yusuf adalah satu dari belasan pasangan yang mengikuti bakti sosial (Baksos) nikah massal dan itsbat (peresian) 2013 di Balai Pemuda, Kamis (7/11/2013) pagi. Pria asal Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari ini menikahi pujaan hatinya, Yuliana (33 tahun). Bisa menikah di bangunan cagar budaya seperti Balai Pemuda sejatinya tidak pernah terlintas dalam pikiran Yusuf. Apalagi, ada puluhan fotografer yang berkerumun untuk mengambil gambar akad ikahnya.
“Saya sudah seperti artis sinetron saja, banyak yang motret. Makanya saya sempat grogi. Tadi pas baru nyampe di sini juga bingung karena banyak polisi. Tapi Alhamdulillah akad lancar,” sambung pria yang mengaku sudah menjalin kasih selama 12 tahun dengan calon istrinya.
Kegiatan Baksos nikah massal dan Istbat 2013 ini digelar Lembaga Kajian Pelayanan Publik Nasional (LKPPN). Untuk tahun ini, kegiatan bertemakan menjadikan keluarga cinta damai, harmonis, tenteram, bahagia dan langgeng ini diikuti 15 pasangan. Kelima belas pasangan tersebut berasal dari lima kecamatan di Kota Surabaya, yakni Kecamatan Wonokromo, Simokerto, Sawahan, Tambaksari dan Kecamatan Tegalsari. Dari jumlah itu, hanya enam pasangan yang mengikuti nikah massal sementara sembilan pasangan mengikuti istbat.
Ketua LKPPN, Arief Mardianto mengatakan, jumlah pasangan yang mengikuti kegiatan nikah massal dan itsbat 2013 ini memang menurun dibandingkan agenda serupa pada tahun sebelumnya yang diikuti oleh 30 pasangan. Penurunan peserta nikah massal dan itsbat itu dinilai Arief sebagai salah satu bentuk kesuksesan Pemerintah Kota Surabaya dalam hal menfasilitasi warganya yang belum menikah dan belum memiliki buku nikah.
“Tahun lalu ada 30 pasangan, sekarang melorot jadi 15 pasangan. Kami pandang Pemkot Surabaya telah sukses. Ternyata kita tidak temukan lagi saudara yang perlu kita bantu. Ini simbol dan indikator Pemkot Surabaya telah berhasil dan faktanya hari ini hanya diikuti 15 peserta, itupun sebagian besar untuk sidang istbat,” jelas Arief Mardianto.
Sementara untuk pasangan yang mengikuti istbat, diharuskan mengikuti prosesi sidang itsbat di Pengadilan Agama. Dalam mengikuti sidang itsbat nikah, setiap pasangan suami-istri tersebut diharuskan didampingi oleh dua orang saksi dan satu orang wali nikah.
Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Surabaya, Nurhasan dalam sambutannya mengatakan, prosesi nikah massal sudah sesuai dengan syariat Islam dan juga Undang-Undang di mana ada calon suami, calon istri, wali nikah, mas kawin serta ijab Kabul. Nurhasan lantas berpesan kepada para pasangan yang baru saja menikah hendaknya bersikap jujur dan menyampaikan perkataan yang baik. “Serta saling mengingatkan di jalan kebaikan,” ujarnya.
Selama ini, Pemkot Surabaya menfasilitasi warga yang pernikahannya belum tercatat di pencatatan administrasi pemerintahan, agar bisa mendapatkan buku akta nikah. Pemkot Surabaya bersinergi dengan Pengadilan Agama (PA) Surabaya, mengikutsertakan mereka melalui sidang itsbat di PA Surabaya.
Seperti pada 26 Juli 2013 silam, ada sebanyak 30 pasangan suami-istri (Pasutri) dari Kelurahan Ujung di Kecamatan Semampir yang diikutsertakan dalam sidang itsbat nikah. Agenda sidang itsbat nikah yang digelar pada bulan Juli itu merupakan periode yang kedua kalinya bagi warga di sana. Sebelumnya, pada Maret 2013 lalu, sidang istbat nikah periode pertama diikuti oleh 35 pasangan suami-istri dari Kecamatan Semampir. Mereka kini pun sudah memiliki buku nikah.(humas/r7)