Berani Mati Tolak Penutupan Dolly

Tidak ada komentar 650 views

Surabaya,(DOC) – Sejumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) yang selama ini menjajakan diri di lokalisasi Dolly terus melawan upaya penutupan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Bahkan, para PSK siap mati jika pemkot tetap bersikukuh menutup lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Salah satu PSK yang bernama Vivi dengan tegas mengaku, uang ganti rugi Rp5 juta dari pemkot tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Dalam sebulan, dia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp8 juta. Uang sebesar itu untuk membiayai pendidikan tiga anaknya dan juga kebutuhan tiap hari. Sebaliknya, menurut PSK yang sudah tujuh tahun malang melintang di Dolly ini, dirinya lebih baik memberi Risma uang Rp5 juta perbulan daripada Dolly ditutup. “Tidak usahlah Dolly diobrak-abrik. Uang Rp5 juta itu buat apa. Buat beli susu anak saya saja kurang. Nggak apa-apa ditutup kalau ganti ruginya Rp1 miliar. Dolly itu bukan hanya tempat untuk esek-esek, tapi ada juga tukang becak dan juga bakul sate. Risma harus mengerti ini, jangan asal tutup-tutup saja,” terangnya, Selasa (20/5/2014)

Kalau Dolly ditutup, lanjut Vivi, dia bersama kawan-kawannya sesama PSK akan berjuang mati-matian membela agar lokalisasi ini tetap buka. Menurut Vivi, setiap perempuan pasti tidak ingin bercita-cita menjadi wanita penghibur. Setiap perempuan pasti ingin mendapat pekerjaan yang layak, entah itu menjadi dokter, polisi, pilot dan lain-lain. Menjalani pekerjaan sebagai PSK ini sudah dianggap sebagai nasib yang harus diterima dengan lapang dada. “Kami siap mati pertahankan Dolly. Kalau satu-satu yang berjuang, kami akan mudah dikalahkan, tapi kalau semua melawan, kami akan kuat. Ibarat sapu lidi, kalau hanya satu bisa dipatahkan. Tapi ketika sudah terkumpul banyak, pasti bisa untuk memukul,” jelasnya. (lh/r7)