Berharap Mendikbud Setuju Usulannya, Risma Prihatin Anak Bomber Pernah Berkata Ingin Mati Sahid Di Sekolahan

foto : Mendikbud bertemu dengan Wali kota di ruang kerjanya. Nampak Wali kota Tri Rismaharini menyalami Mendikbud, Muhadjir Effendy saat tiba di Balaikota

Surabaya,(DOC) – Pasca aksi terror bom bunuh diri di Surabaya yang melibatkan anak-anak, terus menjadi perhatian serius dari Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini, kali ini di bidang pendidikan yang tengah dipantau.

Anak yang turut dilibatkan oleh pelaku bom gereja, juga mengenyam pendidikan dan pergi sekolah seperti anak-anak lainnya. Namun nilainya sangat mengejutkan dan membuat prihatin banyak kalangan termasuk para guru, karena khusus untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) nilainya nol.

Anak itu adalah salah satu putri dari pelaku bom bunuh diri yakni Dita Oepriarto (bapak) dan Puji Kuswati (ibu), warga Wonorejo, Rungkut, Surabaya. Dita dan Puji sendiri memiliki empat anak yakni  Yusuf Fadhil (18), Firman Halim (16), Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita.

Seperti pemberitaan sebelumnya, satu keluarga pelaku bom bunuh diri ini, sebelumnya membagi peran saat melakukan aksi terornya digereja-gereja. Dita meledakkan bom di GPPS Jalan Arjuno, Yusuf dan Firman di Gereja Katolik Ngagel dan Puji bersama dua putrinya Fadhila dan Famela melakukan bom bunuh diri di GKI Jalan Diponegoro.

Tri Rismaharini sendiri telah mengaku sempat mengusulkan perlunya sanksi bagi siswa SD dan SMP yang nilai mata pelajaran PPKN nol, yakni berupa tak naik kelas atau tak lulus sekolah.

Usulan ini, lanjut Tri Risma, telah disampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Effendi saat berkunjung ke Balai Kota Surabaya, Senin(14/5/2018) lalu, untuk menyikapi prilaku aneh sewaktu sekolah dari salah satu siswa yang menjadi pelaku bom bunuh diri di GKI Jalan Diponegoro.

“Anak itu nilai PPKN-nya nol. Kalau PPKN nol mestinya tidak boleh masuk kelas, apalagi dua kali berturut-turut, ya dikeluarin saja,” katanya, Kamis(17/5/2018).

Ia juga sudah menemui salah satu guru kelas dari anak Dita dan Puji yang sekolah di salah satu SD swasta favorit di Kota Surabaya. Pada saat itu, Risma mendapatkan penjelasan dari guru kelas jika anak tersebut nilai PPKN-nya nol.

Padahal, lanjut dia, dalam mata pelajaran PPKN yang diajarkan di semua sekolah tidak hanya diajarkan nilai-nilai dalam pancasila saja, melainkan juga sopan santun, toleransi, gotong-royong dan lainnya.

Selain itu, lanjut dia, yang mengagetkan anak tersebut juga sempat bilang ke guru kelas maupun teman-temannya punya keinginan mati sahid.  “Katanya juga mau mati sahid,” katanya.

Mestinya, pihak sekolah mendeteksi prilaku anak yang berucap ‘ingin mati sahid’ seperti itu, lalu, lanjut Risma, pihak sekolah mengambil sikap untuk mengetahui apa yang terjadi pada siswa itu.

“Bisa saja, anak itu tidak sengaja mengucapkan itu. Tapi kita merasa kan aneh,” katanya.(rob/r7)