BI Jatim: Semester 1 Dunia Usaha Tumbuh 20%

Tidak ada komentar 15 views

Surabaya,(DOC) – Bank Indonesia Jawa Timur mencatat selama semester pertama tahun 2017 sektor usaha di Jawa Timur alami pertumbuhan sebesar 20% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Hal ini sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Triwulan II-2017 yang mengindikasikan adanya peningkatan kinerja dunia usaha, sebagaimana optimisme pelaku usaha terhadap Indikator Realisasi Kegiatan Usaha yang tercatat positif sebesar 20,22%, didorong oleh aktifitas sektor Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan, Hotel, & Restoran (PHR).

Deputi Direktur Bank Indonesia Jawa Timur, Herawanto mengatakan, meningkatnya dunia usaha menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha di Jawa Timur yang mencatatkan kenaikan kinerja pada triwulan laporan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Dari sisi sektoral, optimisme pelaku usaha terhadap peningkatan realisasi kinerja dunia usaha sektoral tertinggi di sektor PHR, diikuti dengan sektor Industri Pengolahan. Meningkatnya kinerja kedua sektor utama dipengaruhi oleh faktor musiman yaitu momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1438 H yang mendorong naiknya permintaan  domestik.”ujarnya kepada wartawan di gedung BI Jatim, Selasa(18/07/2017).

Ia menjelaskan, peningkatan kinerja sektor industri pengolahan sejalan dengan nilai Prompt Manufacturing Index SKDU triwulan II-2017 yang berada pada level ekspansi, terindikasi dari meningkatnya kapasitas produksi dari 71,36% menjadi 78,48% didorong oleh naiknya kapasitas produksi hampir dari seluruh sektor.

Herawanto menambahkan, kapasitas sektor utama juga terpantau meningkat, pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan mencatat peningkatan sebesar 5,66 poin menjadi 72,28% dan sektor industri pengolahan terpantau naik 2,95 poin menjadi 75,43%.

Kondisi ini, kata Herawanto, sejalan dengan indikator realisasi tenaga kerja tercatat mengalami kenaikan pada triwulan laporan. Di sisi lain, peningkatan kinerja dunia usaha pada triwulan II-2017 tidak langsung direspon oleh pelaku usaha dengan menaikkan harga jual.

“Hal ini tercermin dari indikator kenaikan harga jual barang/tarif yang tercatat lebih rendah 6,51 poin (qtq) dibandingkan triwulan I-2017. Meredanya tekanan terhadap kenaikan harga jual dialami pada hampir seluruh sektor ekonomi terutama dari sektor Industri Pengolahan dan Jasa-jasa.”terangnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, Investasi pelaku usaha pada triwulan II-2017 relatif stabil, bahkan untuk tiga sektor utama Jawa Timur yaitu sektor industri pengolahan, sektor PHR dan sektor Pertanian tercatat mengalami kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hasil SKDU triwulan II-2017 juga mengkonfirmasi likuiditas maupun rentabilitas perusahaan dalam kondisi baik, dengan akses kredit ke perbankan yang dinilai cukup mudah.

Memasuki triwulan III-2017, tambah Herawanto, ekspektasi pelaku usaha terhadap aktivitas ekonomi diperkirakan masih bertumbuh. Hal ini diindikasikan oleh meningkatnya optimisme pelaku usaha pada indikator ekspektasi kegiatan usaha yang mengalami kenaikan sebesar 7,86 poin dengan tingkat kebutuhan tenaga kerja yang relatif stabil.

“Namun, masih terdapat potensi kenaikan harga jual komoditas, meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan II-2017.”jelas Herawanto.

Sementara itu, pelaku bisnis logistik ekspor maupu  impor, Budi Leksono mengatakan, meski dunia usaha secara global masih stagnan namun di Jatim sendiri ekonomi tetap tumbuh. Itu karena, Pemprov Jatim maupun seluruh steakholder yang ada mendukung penuh kebijakan pemerintah daerah dan saling menjaga terhadap inflasi.

“Karena inflasi yang tinggi tentunya akan membuat pergerakan ekonomi menjadi lambat. Nah inflasi yang terjaga maka semua lini bisnis terlebih sektor forwader maupun logistik tentunya akan kondusif. Dan terbukti memang bisnis kita memasuki triwulan ke dua tahun ini sudah bergerak naik dikisaran 10-25%.”ungkapnya.(trish/r7)