Bintang Empat di Pundak Budi Gunawan Memicu Matahari Kembar di Polri?

Jakarta, (DOC) – Pelantikan Budi Gunawan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara, menyisakan sejumlah pertanyaan.

Tak hanya prosesinya yang terkesan mendadak, kenaikan pangkat Budi dari Komisaris Jederal menjadi Jenderal juga menuai polemik.

Kekhawatiran akan dualisme matahari kembar di tubuh Polri pun muncul.

Bintang empat

Saat prosesi pelantikan dilangsungkan, Budi Gunawan terlihat mengenakan setelan jas berwarna hitam berpadu dasi merah dan kemeja putih. Sumpah jabatan pun diucapkan Budi, mengikuti Presiden Jokowi.

“Bahwa saya akan menjunjung tinggi kode etik intelijen negara di setiap tempat, waktu, dan dalam keadaan bagaimanapun juga,” ucap Budi.

Setelah mengucapkan sumpah dan mendapat selamat dari Presiden, giliran para tamu undangan yang hadir di Istana Negara memberikan ucapan selamat.

Mereka yang hadir di antaranya Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, mantan Kepala BIN Sutiyoso, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Ketua MPR Zulkifli Hasan, dan Ketua DPD Irman Gusman.

Selain itu, hadir pula jajaran menteri Kabinet Kerja, Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama, sejumlah perwakilan Komisi I DPR, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, dan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Pemandangan unik terjadi tatkala Megawati memberikan selamat kepada Budi. Mantan Wakapolri itu langsung mencium tangan Presiden kelima RI.

Budi memang dikenal dekat dengan Megawati, lantaran pernah menjadi ajudannya saat masih menjabat sebagai Presiden saat itu. Kemudian, Budi pun keluar ruangan pelantikan.

Pemandangan baru terlihat di pundak Budi. Sebab, mantan Kepala Lembaga Pendidikan Polri itu tak lagi memanggul bintang tiga, melainkan bintang empat di pundaknya. Artinya, Budi telah berpangkat Jenderal Polisi.

 

“Alhamdullilah hari ini saya sudah secara resmi menjadi Kepala BIN sekaligus dinaikkan pangkat menjadi Jenderal Polisi bintang empat,” kata Budi, kepada wartawan usai pelantikan.

“Tentu amanah ini akan saya tunjukkan lewat pengabdian terbaik sebagai prajurit Bhayangkara sejati, jiwa raga saya untuk merah putih dan NKRI,” ucapnya.

Saat dikonfirmasi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, enggan berkomentar ihwal kenaikan pangkat Budi tersebut.

“Enggak, saya enggak bisa komentar,” kata dia.

Wajar

Secara terpisah, Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan, kenaikan pangkat Budi menjadi jenderal bersamaan dengan turunnya keppres yang ditandatangani Presiden Jokowi.

Menurut dia, kenaikan pangkat itu merupakan sesuatu yang lazim. Sebab, Budi masih berstatus aktif di kepolisian.

“Tidak masalah dengan itu,” kata Boy saat dihubungi.

Hal ini sempat menimbulkan pertanyaan besar, terutama bagi Tito dalam memimpin Polri ke depan. Seperti diketahui, Budi merupakan senior Tito di Akademi Kepolisian.Dengan kenaikan pangkat itu, maka ada dua jenderal bintang empat aktif di kepolisian, yaitu Budi Gunawan dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Budi adalah lulusan Akpol tahun 1983, sedangkan Tito merupakan lulusan angkatan 1987.

Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar mengatakan, terlalu berlebihan jika ada kekhawatiran akan munculnya matahari kembar di tubuh Polri.

Kendati demikian, ia mengingatkan, agar Tito profesional dalam menjalankan tugasnya memimpin Polri.

“Kalau dia ada rasa sungkan, ada rasa ini itu, mungkin saja terganggu. Yang kita harapkan, Pak Tito bener-benerconcern sebagai leader,” kata Bambang.

Ia menuturkan, BIN dan kepolisian memiliki elemen berbeda di dalam menjalankan tugas dan fungsi intelejen.

Secara khusus, intelijen kepolisian memiliki konsentrasi di dalam menghadapi persoalan kriminal. Sementara BIN, memiliki cakupan yang lebih luas, baik itu di dalam negeri maupun luar negeri.

Adapun yang menjadi pengutamaan BIN meliputi ekonomi, politik, budaya, hukum, serta keamanan.

Bambang menuturkan, ketegasan Tito diperlukan dalam memimpin Polri. Terutama, ketika mengambil kebijakan atas ide dan gagasan yang muncul terkait program kerja yang ingin diterapkan bagi perbaikan Polri ke depan.

“Memang itu harus menata ulang beberapa sasaran program reformasi, dan menata personel yang sejalan dengan dia,” ujarnya.

Jika dalam menjalankan tugasnya, masih merasa sungkan karena alasan angkatan, hal itu tentu disesalkan.

Bambang berharap, Tito dapat memisahkan antara urusan pribadinya dengan Budi Gunawan, serta urusan hubungan kedinasan. “Kalau itu dicampur aduk, ya mohon maaf ya, setingkat pejabat tinggi masih gitu ya masih berpikir sempit,” kata dia.(kmp/r1)