BPJS Ketenagakerjaan Santuni Korban Bom Gereja Surabaya

foto : Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif berdialog dengan Yesaya(40), seorang security GKI Diponegoro, korban bom bunuh diri 

Surabaya,(DOC) – Rangkaian tragedi bom bunuh diri 3(tiga) lokasi gereja Surabaya, Rusunawa Woncolo Sidoarjo, dan Mapolresta Surabaya yang membawa puluhan korban jiwa dan luka-luka, menjadi perhatian serius dari BPJS Ketenagakerjaan.

Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif, Jumat(18/5/2018), mengunjungi korban luka-luka yang masih menjalani perawatan disejumlah  rumah sakit di Surabaya.

Dalam kesempatan itu, korban yang di kunjungi yakni, Yesaya Bayang(40), seorang pria petugas keamanan yang terluka akibat ledakan bom, saat bertugas mengamankan jalannya misa di GKI Diponegoro, Minggu(13/5/2018) pagi. Di insiden itu, Yesaya tengah mencegah seorang bomber wanita, yang membawa 2 anak perempuan masuk ke pekarangan gereja. Tas yang dijinjing oleh bomber wanita tersebut meledak 2 kali persis di dekat Yesaya.

Material bom sempat menancap di tubuh Yesaya bagian paha kanan, tangan kanan dan diwajah serta telinga. Awalnya Yesaya dirawat di IGD RS. William Both, kemudian dipindah ke RSAL Dr. Ramelan Surabaya.

Korban kedua yang dikunjungi yakni korban perempuan, bernama Siti Mukarimah(25), seorang perawat rumah sakit William Both yang terkena bom bunuh diri di gereja Pentakosta, Jl Arjuna.

Saat itu, korban luka-luka yang tengah dirawat intensif, hendak pulang ke rumah, setelah menyelesaikan tugasnya di shift malam. Namun ketika didepan gereja Pentakosta, korban terjebak macet persis dibelakang mobil avansa yang digunakan untuk meledakkan bom bunuh diri bersama pelakunya. Kala itu, mobil tengah menerobos masuk perkarangan gereja Pentakosta dan akhirnya meledak. Siti yang mengandung 5 bulan ini, langsung tersungkur dari sepeda motor yang ditungganginya dan nyaris meninggal dunia.

“Kejadian ini tergolong dalam kecelakaan kerja dimana keduanya masih dalam rangka menjalankan tugas dan selesai bertugas pada saat terjadinya peristiwa naas itu, tentunya kita akan bertanggung jawab dalam memberikan jaminan kecelakaan kerja pada korban ini, kita akan memberikan jaminan perawatan sampai sembuh dan bekerja kembali,” terang Krishna.

Melihat kondisi korban, Krishna juga menyampaikan kesedihannya yang sangat mendalam.

Seperti diketahui, BPJS memiliki program ‘JKK Return to Work ‘ yang akan memberikan santunan sementara bagi para korban yang masih tak mampu bekerja selama menjalani perawatan.

“Untuk itu, saya berharap seluruh masyarakat memiliki jaminan sosial guna persiapan terjadinya risiko sosial dimanapun dan kapanpun. Ini sangat penting,” tandasnya.

Selain korban luka-luka, BPJS juga memberikan santunan kepada Nuchsin(56) seorang karyawan Toko Roti Brownis Amanda, yang menjadi korban meninggal saat ledakan bom gereja Pantekosta terjadi.

Keluarga atau ahli waris Nuchin mendapatkan santunan JKM Rp 24 Juta, santunan JHT Rp 13,12 Juta, Beasiswa Rp 12 Juta , ditambah biaya manfaat Jaminan Pensiun berkala yang dibayarkan setiap bulan oleh BPJS Ketenagakerjaan.

“Total santunan Rp 49,12 Juta ditambah jaminan pensiun perbulan. Saat bom meledak di gereja Pentakosta, posisi Nuchsin tengah melintas di jalan Arjuna dekat mobil yang digunakan pelaku bom bunuh diri,” pungkasnya.

Dalam penyerahan santunan ke para korban bom gereja di Surabaya, jajaran direksi BPJS Ketenagakerjaan ini, juga di dampingi oleh rombongan dari Kemensos.(hadi/r7)