Budaya Mampu Kalahkan Kepentingan Uang

Tidak ada komentar 92 views

Yogyakarta, (DOC) – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan, revitalisasi budaya merupakan elemen penting yang mengawali kebangkitan sebuah peradaban. Guna mengembalikan peradaban Indonesia yang saat ini dikepung kepentingan uang, budaya menjadi senjata ampuh yang harus digunakan.
“Kalau dulu politik dan ekonomi pernah dijadikan panglima, dan sekarang di era reformasi ini justru uang yang menjadi panglima, ada baiknya kini kebudayaan dijadikan panglima,” kata Hamengku Buwono X, saat menjadi pembicara kunci di Kongres Kebudayaan Indonesia 2013, di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.
Hamengku Buwono X mengatakan, inventarisasi dan penggalian kembali kebudayaan tradisi nusantara menjadi awal dari revitalisasi budaya. Kebudayaan, kata Dia, memiliki empat peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, kebudayaan sebagai pengikat cita-cita, kebersamaan dan rasa kebangsaan, kedua memberi arah dan muatan pendidikan, ketiga sebagai media diplomasi, dan keempat dalam kaitannya dengan potensi ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tidak sedikit permasalahan yang muncul dalam masyarakat dapat diselesaikan melalui pendekatan budaya, atau setidaknya memerlukan sudut pandang budaya,” katanya.
Hamengku Buwono X menilai, ancaman terhadap keberadaan warisan budaya semakin mengkhawatirkan. Pembangungan dan modernisasi adalah penyebab terancamnya eksistensi warisan budaya. Paradigma pembangunan yang pro kapital dan berorientasi ekonomi telah menempatkan aspek budaya pada posisi marjinal, utamanya di kawasan perkotaan.
Gubernur DIY ini menambahkan, salah satu konsep untuk adaptasi produk global dengan karakter lokal adalah glokalisasi. Glokalisasi menjadi strategi yang muncul sebagai kritik terhadap konsep perdagangan bebas neoklasik yang tidak lagi menspesialisasikan sebuah negara dalam satu produk sesuai dengan potensinya.
“Orang yang dapat bertahan hidup adalah orang yang tidak terbawa globalisasi tetapi melakukan glokalisasi,” tutur Hamengku Buwono X mengutip ucapan Anand Krishna. (r4)