Buku Road to Semen Indonesia Habiskan Ratusan Miliar Rupiah

Gresik, (DOC) – Setelah dilaunching di Jakarta pada 4 Pebruari 2014, bedah buku Road to Semen Indonesia gencar dilakukan di kampus-kampus seperti Universitas Hasanuddin Makasar, Unair Surabaya, ITS Surabaya dan Universitas Andalas Padang. Penulis yang notabene adalah alumni ITS, akan berencana juga melakukan bedah di Kampus Unibraw Malang, UGM Yogya, Undip Semarang, UI Jakarta. Dimana saja, pada kesempatan maupun acara lainnya, selalu siap bedah buku.
Tidak hanya itu, perusahaan semen yang berkantor di Gresik itu juga akan melakukan bedah buku di stasiun televisi swasta dalam acara Kick
Andy.
Hal ini dibenarkan oleh Suyono PR Eksternal Semen Indonesia. Buku yang mengisahkan perjalanan Dwi Soetjipto mulai dari memimpin Semen
Gresik sampai transformasi menjadi Semen Indonesia yang diklaim berhasil perlu di kaji bersama.
Padahal di era 90-an ada nama Fuad Rivai yang dengan susah payah membabat alas membangun Pabrik Tuban mulai Tuban 1 sampai 3 beserta seluruh karyawan Semen Gresik. Seharusnya saat itulah yang layak mendapat penghargaan. Bahkan ada nama Satriyo yang tercatat meningkatkan kesejahteraan pekerja dengan kenaikan gajinya. Kabarnya, Dwi Soetjipto, dirut PT Semen Indonesia (Persero) Tbk hanyalah penerus saja yang menjegal Satriyo di tengah jalan sebelum akhir masa jabatannya usai.
Buku setebal 318 halaman tersebut informasinya sudah dicetak mencapai 15 ribu buku. Jumlah yang luar biasa untuk sebuah buku baru yang langsung habis
terjual. Ada fakta yang mengagumkan dari peredaran buku ini. Yang membuat buku itu habis terjual, ternyata buku tersebut dibeli sendiri oleh Semen
Indonesia dan dibagikan ke pekerja maupun relasi.
Pengakuan beberapa pekerja di Semen Indonesia, “Beberapa waktu lalu, tidak tahu di atas meja saya sudah ada buku, aku tanya pada teman-teman, yang memberi adalah pihak Humas. Informasi di Humas, buku tersebut dibagikan kepada pekerja di Gresik, Tuban, Padang, Makassar (Tonasa, red) dan beberapa lagi ke Vietnam,” aku salah satu pekerja.
Reaksi beragam dilakukan pekerja, diantaranya setelah mendapat buku tersebut tanpa bertanya atau peduli, langsung dibuang ke tempat sampah. Ada yang mengatakan kalau itu hanyalah “pencitraan”. Setiap dilakukan bedah buku, seluruh undangan dikasih buku dan barang lain sebagai souvenir. Kalau setiap bedah buku mengundang sekitar 500 orang maka jika bedah buku di 10 tempat, buku yang dibagikan mencapai 5 ribu buku. Belum lagi yang dibagi untuk
pekerja di semua pabrik, bisa sampai 6 ribu buku.
Berapa biaya sekali dilakukan bedah buku? Ternyata mencapai Rp 350-400 juta. Jika dikalikan 10 tempat, biayanya mencapai Rp 3,5-4 miliar. Sedangkan
biaya cetak satu buku perkiraan mencapai Rp 60.000 per buku atau Rp 900 juta untuk seluruhnya. Penyediaan souvenir yang dibagikan masing-masing senilai Rp 200 ribu tentu untuk ribuan souvenir bisa mencapai Rp 1 miliar. Artinya di 10 tempat bedah buku bisa menelan biaya mencapai Rp 5,9 miliar. Belum lagi biaya lain-lain seperti untuk pembicara, pameran dan lainnya. Informasinya, dana itu berasal dari CSR.
Belum lagi terkait kegiatan sepektakuler yang hanya ditangani satu-satunya event organizer ‘kesayangan Semen Indonesia’, Pilar Communication. Bisa-bisa
menghabiskan biaya ratusan miliar dalam setahun. Belum lagi iklan televisi dengan banyak seri yang selalu menampilkan Dwi Soetjipto sebagai pemain,
pasti menyedot ratusan miliar setahun.
Lebih bijaksana jika dana sebesar itu untuk membantu masyarakat ring I Tuban yang terdampak langsung oleh pabrik terutama area penambangan dan pabrik. Tentu penduduk sekitar tambang akan merasakan manfaatnya dan bisa lebih sejahtera. Namun kenyataannya masih banyak jumlah penduduk di wilayah ring
1 Tuban tergolong miskin kehidupannya, tidak berkembang baik, walaupun pabrik semen sudah berdiri disana selama 20 tahun lebih.
Bedah buku ini bisa jadi salah satu sebab pemborosan di Semen Indonesia. Tengok saja laba bersih Semen Indonesia yang mencapai Rp 5,37 triliun dengan kapasitas produksi lebih dari 28 juta ton. Bandingkan saja dengan laba bersih Semen Tiga Roda yang mencapai Rp 5,01 triliun dengan kapasitas produksi hanya 18,6 juta ton. (ist/r4)