Butuh Political Will Walikota Untuk Atasi Banjir

Tidak ada komentar 297 views

Surabaya , (DOC) – Cuaca ekstrim yang dalam beberapa hari terakhir melanda Kota Surabaya mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Surabaya. Para anggota legislatif tersebut berharap, Dinas PU Bina Marga dan Pematusan memiliki cara jitu dalam menanggulangi banjir yang kerap melanda beberapa titik di Surabaya.
“Dari pengamatan saya kawasan seperti Ketintang, Jalan Kertajaya, Panglima Sudirman serta Prapen masih menjadi langganan banjir. Itu yang terlihat ketika kemarin terjadi hujan lebat,” ungkap Wakil Ketua Komisi C (pembangunan) DPRD Surabaya, Simon Lekatompessy, Kamis (27/12/2012).
Menurutnya, saat ini yang harus dilakukan pemerintah kota adalah aktif melakukan kontrol terhadap 47 rumah pompa yang sudah ada. Sebab percuma saja memiliki puluhan rumah pompa jika tidak dapat digunakan secara maksimal.
“Kalau ditotal jumlah rumah pompa yang ada mencapai 49, sebab ada 2 milik Propinsi jawa Timur. makanya saya mendorong dua rumah pompa tersebut diserahkan saja ke pemkot agar sepenuhnya dikendalikan pemerintah kota,” ujar politisi dari Partai Damai Sejahtera (PDS) itu.
Sementara untuk kawasan Prapen, menurut Simon rumah pompa yang ada belum bisa difungsikan. Karena berdasarakan informmasi yang diberikan Dinas PU, rumah pompa tersebut baru bisa digunakana dalam beberapa hari lagi.
“Jadi jika di Prapen pas hujan lebat masih banjir untuk satu dua hari ini saya masih memaklumi,” cetus Simon.
Selain kesiapan rumah pompa yang harus dipastikan siap pakai, tambah dia, masalah lain yang kerap diabaikan dalam penanggulangan banjir di Surabaya adalah soal perawan box culvert. Sebab percuma saja memiliki rumah pompa yang bagus tapi sarana lainya diabaikan begitu saja.
“Pas hujan lebat kemarin saya lewat Ketintang, tapi di sana masih terjadi banjir. Padahal di Ketintang sudah ada box culvert-nya, dan itu membuktikan perawatan yang dilakukan sangat lemah,” terang pria yang dikenal cukup vokal ini.
Lebih jauh, pria yang juga menjadi pengusaha reklame tersebut mengingatkan untuk penanganan banjir hendaknya Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mencontoh program yang digalakan Gubernur Jawa Barat, Djoko Widodo. Menurutnya pola penganan banjir yang melibatkan seluruh stake holder mulai dari warga, RT dan kelurahan adalah cara terbaik dalam mengatasi masalah banjir.
Oleh karena itu, ia menilai cara walikota yang turun langsung tanpa melibatkan dinas terkait serta masyarakat dalam mengatasi masalah banjir dinilainya kurang taktis. Padahal pada tahun 2014 diharapkan Kota Surabaya sudah terbebas dari masalah banjir.
“Kalau meniru cara walikota yang turun langsung seperti di Ketintang beberapa hari yang lalu saya kira tidak maksimal. Sebab untuk mangatasi banjir, selain ada politic will dari pemkot, kesadaran warga untuk menjaga lingkunganya juga turut harus ditumbuhkan,” tandas pria yang dikabarkan bakal maju dalam pemilihan legislatif Propinsi Jawa Timur tersebut.
Terpisah, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya, Erna Purnawati mengaku sudah bekerja secara maksimal dalam mengatasi persoalan banjir di Surabaya. Salah satunya dengan mempercepat beberapa pekerjaan saluran air.
“Hampir 24 jam saya bekerja dan memikirkan bagimana caranya surabaya terbebas dari masalah banjir, makanya saya juga kecewa ketika ada yang bilang kinerja Dinas PU tidak memuaskan,” terang Erna Purnawati saat dihubungi anggota Komisi C DPRD Surabaya.
Erna menjelaskan, terkait masalah penanggulangan banjir tidak hanya bertumpuh pada saluran air atau box culvert. Sebab keberadaan rumah pompa juga memiliki peran krusial dalam masalah ini. ironisnya jumlah rumah pompa yang dimiliki pemkot Surabaya masih jauh dari kata ccukup.
“idealnya ada tambahan 6 rumah pompa lagi, karena yang sekarang baru ada 49,” tandas perempuan berjilbab ini.(K1/R7)