Calon Incumbent Sudah Tak Dipercaya

Tidak ada komentar 231 views

Jakarta, (DOC) – Pemilu legislatif 2014 didominasi caleg petahana (incumbent) sekitar 90 persen. Berdasarkan hasil survei kepercayaan masyarakat terhadap caleg pertahana hanya 30 persen.
Tidak percayanya masyarakat terhadap anggota DPR RI yang kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Pemilu 2014 karena dilihat dari kinerja mereka yang buruk. Berdasarkan penelitian Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) pada 3 April lalu, mengungkapkan 83 persen Anggota DPR periode 2009-2014 menunjukkan kinerja yang buruk.
Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menjelaskan bahwa 90 persen anggota DPR periode 2009 – 2014 mencalonkan kembali menjadi caleg. “Menurut hasil penelitian Formappi kinerja anggota dewan periode 2009 – 2014 buruk, sehingga hal tersebut mempengaruhi terhadap keputusan masyarakat untuk memilih incumbent lagi atau tidak. Hal lain yang mempengaruhi pilihan masyarakat adalah caleg petahana dianggap tidak jujur, banyaknya kasus korupsi, pelanggaran etika dan norma,” paparnya.
Siti Zuhro menambahkan, akibat buruknya kinerja caleg petahana, masyarakat justru mengharapkan adanya pendatang baru yang bisa memberikan perubahan. “Pemilih mengharapkan adanya caleg pendatang baru yang bisa menunjukkan kinerja yang baik. Terutama pemilih pemula, mengharapkan caleg yang reformis atau menggerakan perubahan,” imbuhnya.
Sementara itu Faisal Yusuf aktivis pemuda menjelaskan kinerja caleg petahana di legislatif dinilai gagal. “Kegagalan caleg petahana salah satunya adalah mengenai pembuatan undang-undang. Pada periode 2009 – 2014, tercatat 279 Rancangan Undang-Undang (RUU) yang harus dibahas. Namun ternyata hanya 70 RUU saja yang dibahas, dan hanya 6 RUU yang disahkan menjadi undang-undang,” contoh Pemuda Pegiat Lingkungan Hidup ini.
Faisal menambahkan, banyaknya caleg petahana yang terlibat kasus mega korupsi juga menjadi sebab masyatakat tidak memilih mereka lagi. “Selain kinerja yang tidak sesuai target, banyaknya caleg petahana yang terlibat korupsi, ditambah lagi banyaknya video-video penyimpangan yang melibatkan para petahana menjadi penilaian yang cukup jelas bagi masyarakat untuk tidak memilih mereka,” tutupnya. (r4)