Calon Perawat Gugat RS National Hospital Bayar Ganti Rugi 5 Milliar

Foto : RS National Hospital Surabaya(dok)

Surabaya,(DOC) – Gugatan perdata yang dilayangkan calon perawat RS National Hospital Surabaya berinisial OP terhadap oknum dokter berinisial R atas dugaan pelecehan seksual telah memasuki tahap mediasi, Kamis(31/1/2018).

Proses mediasi yang digelar di ruang hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, dihadiri langsung oleh OP dan kuasa hukum pihak tergugat.

Pertemuan singkat sekitar 15 menit yang berlangsung tertutup itu, belum menghasilkan kesepakatan antar kedua pihak.

Hakim PN Surabaya memberikan massa tenggang selama 30 hari untuk proses mediasi dan akan dilanjutkan dengan sidang pokok perkara yang akan berlangsung pada 13 Februari mendatang.

Ida Bagus Adi Harymbawa, kuasa hukum OP, menyatakan, selain pelaku R, kliennya juga menggugat pihak RS National Hospital Surabaya untuk membayar ganti rugi Rp. 5 milliar atas kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami kliennya.

“Hasil mediasi dinyatakan gagal dan berlanjut pada sidang berikutnya karena tak ada respon dan kesepakatan dari kedua pihak,” kata Ida.

Gugatan perdata ke PN Surabaya ini, lanjut dia, karena Polda Jatim dianggap lamban merespon laporan pidana kliennya OP.

Sekitar 5 bulan, kasus ini menghilang dan dilanjutkan lagi, setelah mencuat kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum perawat pria terhadap pasien wanitanya di rumah sakit yang sama.

Sementara itu, pihak tergugat yakni dokter R maupun managemen RS National Hospital berencana menanggapi gugatan perdata OP di pengadilan atas kasus dugaan pelecehan seksual.

“Tergugat 1 siap menjawab gugatan di sidang nanti, karena tuntutannya  tidak masuk akal,” ungkap Syahrul Borman, Kuasa hukum tergugat R secara terpisah.

Menurut dia, usai pertemuan berlangsung, gugatan awal ke pihak rumah sakit dan R yaitu pembayaran ganti rugi sebesar Rp.5 milliar dan turun menjadi Rp. 800 juta hingga Rp.1 milliar.

“Keberatan karena penggugat tak bisa membuktikan secara fakta kalau pemeriksaan yang dilakukan tergugat menyalahi prosedur. Apa yang dilakukan kliennya hanya melaksanakan tugas untuk melakukan general check up,” pungkas Syahrul Borman.(hd/r7)