Canangkan Surabaya Bebas Prostitusi

Tidak ada komentar 383 views

Surabaya,(DOC) – Masih adanya persepsi sebagian kalangan masyarakat yang mengidentikkan Surabaya dengan lokalisasi Dolly, membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya prihatin. Padahal, Surabaya merupakas atu-satunya kota di Indonesia yang mendapat julukan sebagai kota Pahlawan. Karenanya memperingati Hari Pahlawan 10 November 2013, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya akan melakukan deklarasi Surabaya bebas prostitusi. Deklarasi akan digelar bertepatan dengan perayaan Hari Pahlawan, Minggu (10/11) di Taman Bungkul.
Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Supomo mengatakan, selama ini, masih ada banyak orang luar kota yang menganggap Surabaya sebagai kawasan lokalisasi. Bahkan, lanjut Supomo, ada asumsi bahwa kawasan Dolly merupakan lokalisasi terluas di Asia Tenggara meskipun belum ada penelitian akademis yang membenarkan hal itu.
“Masih ada orang luar Surabaya yang ketika bertamu lantas bertanya tentang lokalisasi, bukan bagaimana pahlawan Surabaya berjuang merebut kemerdekaan. Makanya, bertepatan dengan Hari Pahlawan, kita gelorakan kembali status Surabaya sebagai Kota Pahlawan,” tegas Supomo ketika berbicara pda jumpa pers di kantor Humas Pemkot Surabaya, Jumat (8/11/2013).
Dikatakan Supomo, Pemkot Surabaya menganggap keberadaan lokalisasi sebagai persoalan serius. Karena itu, Pemkot Surabaya serius melakukan rehabilitasi terhadap wilayah tersebut. Sejauh ini, sudah ada dua lokalisasi yang sudah ditutup. Yakni lokalisasi Tambakasri, Klakah Rejo, dan Dupak Bangunsari. Ke depannya, Dinsos Kota Surabaya berencana menutup lokalisasi Sememi pada Desember 2013 mendatang.
“Dan pada 2014 mendatang, kita akan melakukan rehabilitasi terhadap kawasan lokalisasi Jarak dan Dolly. Keinginan ini didukung oleh elemen masyarakat seperti organisasi kemasyarakat (Ormas) keagamaan, Ormas kepemudaan, dan juga kemahasiswaan,” sambung Supomo.
Menurut Supomo, saat ini, pihaknya sudah melakukan kajian bagaimana rehabilitasi Dolly tersebut akan dilakukan. Utamanya tentang bagaimana warga yang terkena dampak langsung secara ekonomi dan social imbas rehabilitasi tersebut. Dinsos akan melakukan pemberdayaan agar warga sekitar lokalisasi tidak terlalu berat merasakan dampak rehabilitasi. Dia mencontohkan lokasi eks lokalisasi di Klakah Rejo yang kini dialihfungsikan untuk bangunan Sport Center, sekolahan dan taman.
“Ini kan program kasih sayang. Untuk Dolly belum tahu nanti akan dibangun apa karena kajian di Bappeko masih belum turun. Tetapi yang jelas, prinsip kami, Dolly yes, prostitusi No,” jelas mantan Camat Kenjeran ini.
Diakui Supomo, memang transformasi lokalisasi Dolly tidak akan mudah. Tetapi, aturannya sudah jelas bahwa tiap bangunan di Kota Surabaya dilarang digunakan untuk tempat asusila. Dan Pemkot Surabaya disebutnya memiliki fungsi regulator, melihat ada area di Surabaya yang masih harus ditata kembali.
“Prinsipnya, kita selamatkan generasi masa depan, itu lebih utama daripada kita terus berargumentasi. Kita tahu, penanganan Dolly harus lebih cermat dan teliti. Dan kita sudah melakukan sosialisasi, tidak hanya melalui diskusi juga deklarasi ini. Tentunya juga dengan bantuan pemberitaan dari teman-teman media,” imbuh Supomo.
Untuk deklarasi di Taman Bungkul nanti, Dinsos Surabaya akan menggandeng pihak-pihak yang sejalan. Salah satunya perkumpulan Salamun Dolly Foundation yang memiliki kepedulian untuk ikut mentransformasi lokalisasi Dolly secara berperikemanusiaan. “Dolly selama ini dianggap maklum. Makanya, kita ingin melakukan aksi nyata untuk menyadarkan yang keliru melalui deklarasi ini. Kita sudah melakukan kajian kawasan Dolly nanti akan diapakan,” sebut Saiful Pristiwanto, Ketua Salamun Dolly Foundation.(humas/r7)