Caplok Lahan Warga, Pengembang Lapor Polisi

Tidak ada komentar 364 views

Surabaya, (DOC) – Harapan warga RW VIII Kelurahan Dukuh Sutorejo, Kecamatan Mulyorejo, untuk mengambil alih fasilitas umum (fasum) yang diambil pengembang PT Wisma Karya Bhakti (WKB) menemui jalan panjang. Alih-alih pengembang bersedia menyerahkan fasum kepada warga, kini pihak WKB justru melaporkan warga ke pihak yang berwajib.

“Ini adalah bentuk intimidasi yang dilakukan pengembang kepada warga,” tegas Ketua RT IV Patuh.

Patuh menceritakan, kejadian tersebut sebenarnya bermula ketika PT WKB mencabut pohon palem yang ditanam warga pada 5 Oktober 2012. Akibatnya, selang beberapa hari ketika pengembang berusaha memasukan dua truk ke kawasan perumahan dihadang oleh sebagian ibu rumah tangga.

“Saat insiden itulah pihak pengacara PT WKB menantang warga, tapi anehnya justru kami yang dilaporkan ke Polrestabes dengan tuduhan melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan,” herannya.

Sementara Kepala Divisi advokasi dan pengorganisasian Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jatim, Abdul Wahab, menilai jika pelaporan yang dilakukan pihak pengembang merupakan bentuk krimininalisasi terhadap warga dalam memperjuangkan haknya untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan nyaman.

“Saya dukung rencana itu, sebab itu adalah hak warga di sana,” ujar Abdul Wahab.

Abdul Wahab, mengungkapkan sesuai dengan UU 32/2009 setiap warga negara dijamin dalam mendapatkan lingkungan yang sehat. bahkan jika ada pihak yang benghalangi, maka bisa dituntut baik secara pidana maupun perdata. “Menurut saya harusnya pelaporan yang disampaikan pengembang tidak perlu ditindak lanjuti oleh aparat kepolisian,” tandasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Agus Imam Sonhaji membeberkan terkait fasum yang diklaim pengembang memang mengatasnamakan PT WKB. hal itu menyusul adannya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang pernah dikeluarkan dinas bangunan. “Dulu kan Dinas CKTR belum ada, makanya yang mengeluarkan IMB dinas bangunan,” jelas Agus Imam Sonhaji.

Agus Sonhaji menjelaskan, berdasarakan penulusuran yang pernah ia lakukan terkait sengketa fasum di Sutorejo tersebut, dikeluarkanya IMB milik PT WKB berdasarkan sertifikat yang disertai ijin zooning yang dikeluarkan dinas tata kota kala itu.

“Dulunya memang fasum, tapi pada tahun 2008 pengembang mengajukan re-planning terhadap 8 bidang ke pemerintah kota menjadi persil,” jelas pejabat yang menggantikan posisi Sri Mulyono itu.

Menurut Agus Sonhaji, sesuai UU 1/2011 tentang Rumah Pemukiman dinyatakan dengan tegas warga bisa menagih janji yang diberikan pengembang. Namun dengan posisi IMB yang sudah dikeluarkan, dirinya meminta lahan fasum yang menjadi objek sengketa di-status-quokan saja.

“Diclearkan dulu guna mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak,” cetusnya.

Sedangkan anggota Komisi B (perekonomian) DPRD Surabaya, Eddy Rusianto memandang ada yang tidak beres terkait keluarnya sertifikat yang dimiliki PT Wisma Karya Bhakti. Karena antara permintaan yang disampaikan pengembang ke Pemkot Surabaya dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) ternyata tidak sama.

Oleh karena itu, secara tegas dirinya menyebut ada penipuan dalam pengajuan re plaining yang dialkukan pengembang. Sebab antara yang diajukan ke Pemkot Surabaya dengan BPN jumlahnya tidak sama. Jika yang diajukan ke pemkot  jumlahnya hanya 8 bidang, maka yang dijaukan ke BPN ada 11 bidang.

“Masalah ini cukup serius, karena saya melihat ini ada penipuan yang dilakukan PT WKB selaku pengembang,” tandas legislator dari Partai Gerindra ini.

Untuk diketahui, PT WKB merupakan pengembang pembangunan perumahan WKB atau yang kini lebih dikenal dengan perumahan Sutorejo Indah. Dimana proses pembangunannya kala itu dimulai pada 1984 dengan izin lokasi seluas 54 hektar.

Kini mereka muncul dengan mengklaim taman milik RT 04 adalah milik pengembang, mereka menunjukan bukti 11 sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) berikut IMB-nya. (k1/r4)