Cross Culture Festival Daya Tarik Wisatawan

Tidak ada komentar 143 views

Surabaya,(DOC) – Penampilan menghibur peserta Cross Culture Festival (CCF) atau Festival Seni Lintas Budaya 2013 mampu menghidupkan suasana Taman Surya pada Kamis (4/7) malam. Deretan aksi budaya yang dikemas secara medley membuat pertunjukan terasa menarik dari awal hingga akhir.
Tepat pukul 19.00 WIB, pagelaran CCF 2013 dimulai. Tuan rumah Surabaya yang membawakan tarian kolaborasi Memories Ethnic mengawali acara. 30 penari dan pemusik menghentak dengan aransemen musik rancak serta gerak tubuh yang dinamis. Dilanjut dengan penampilan dari Padang dan Jogjakarta yang masing-masing menyuguhkan tarian Rampak Sapayuang dan tari Gelayot Gendhis Ayu.
Peserta dari India tak mau kalah. Dua orang penari bergantian mempertunjukkan tarian Bharatanatyam-Pushpanjali dan Kathak (Samvaad). Tari Kathak dibawakan dengan interaktif. Penari mengajak seluruh penonton bertepuk tangan mengikuti irama bel yang dipasang di pergelangan kaki. Dia juga menantang penonton menghitung jumlah putaran tubuhnya pada akhir tarian. Saking cepatnya, banyak penonton kesulitan menemukan jawabannya. Belakangan diketahui, penari tersebut berputar sebanyak 27 kali.
Pada sesi berikutnya, Donggala, Guangzhou (China), Busan (Korea Selatan), dan Bandung tampil secara berurutan. Di tengah-tengah pagelaran, lima penari jaranan naik ke atas pentas. Mereka bukan sembarang penari, melainkan para mahasiswa asing yang tengah menuntut ilmu di Indonesia. Kendati bukan asli Surabaya, mereka bisa luwes menari jaranan layaknya penari profesional. Aksi itu kontan mengundang tepuk tangan semua yang hadir.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang resmi membuka rangkaian CCF 2013 mengatakan, budaya adalah cara tercepat menjalin persahabatan. Kegiatan ini, lanjut dia, diharapkan mampu menjadi simbol kebersamaan beberapa budaya yang datang dari berbagai negara. Di sisi lain, Surabaya sendiri juga acap kali mengirim penari/seniman ke luar negeri. “Mempererat persahabatan bisa ditempuh dengan saling memahami budaya satu sama lain,” ujarnya.
Sementara itu, respon positif datang dari warga yang menyaksikan CCF. Salah satunya Wahyu Triatmojo. Dia mengaku paling terkesan dengan tarian boneka “Scanco” dari peserta Guangzhou (China). Tarian tersebut dibawakan oleh seorang pria yang menari bersama boneka perempuan. Gerakan si penari dan boneka sangat selaras sehingga terlihat seperti duet dua orang penari. Kolaborasi itu memunculkan nuansa romantis dengan iringan instrumen khas Negeri Tirai Bambu.
“Tariannya bagus sekali. Ada unsur lucu, romantis, dan indah. Saya akan datang lagi bersama keluarga pada penutupan CCF,” kata ayah satu anak ini.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta), Wiwiek Widayati, menuturkan, rangkaian acara CCF berlangsung selama tiga hari, mulai 4-6 Juli. Hari ke-2 diisi workshop pada pagi hari dilanjutkan dengan pertunjukan seni di G-walk Citra Raya malam harinya.
Dia menambahkan, penampilan pada penutupan CCF di Taman Surya, Sabtu (6/7) malam, lebih menarik sebab pesertanya lebih beragam. Seluruh peserta akan habis-habisan memberikan yang terbaik karena itu hari terakhir sekaligus gong puncak acara. Wiwiek berharap, masyarakat tidak menyia-nyiakan kesempatan yang hanya datang setahun sekali itu. “Warga bisa langsung datang ke venue hari Sabtu pukul 19.00 WIB. Semua gratis alias tidak dipungut biaya,” ucapnya.(R7)