Cuaca Buruk Pengaruhi Penyaluran Beras Impor

Tidak ada komentar 257 views

Surabaya, (DOC) – Penyaluran beras impor ke kawasan Indonesia timur, mengalami hambatan akibat buruknya cuaca saat ini.
Humas PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), Edi Priyanto, mengatakan, kegiatan bongkar muat komoditas di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya harus menunggu cuaca normal.”Kalau cuaca sedang bagus, tiap hari pelaku usaha bongkar muat bisa memindahkan beras impor hingga 1.800 ton. Tapi, jika hujan tak menentu seperti sekarang kinerja bongkar muat sulit mencapai 1.800 ton per hari,” Ungkapnya, Rabu(9/01/2013).
Menurut Edi, sesuai ketentuan pemerintah, Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu tempat penyaluran beras impor yang datang dari Thailand.“Ada 13 kapal pengangkut beras impor asal Thailand. Tapi, kini masih 10 kapal yang sudah sandar di pelabuhan Tanjung Perak,” ujarnya.
Pengaruh cuaca buruk ini, lanjut Edi, bongkar muat beras impor ini, tidak bisa maksimal. Dari 10 kapal yang sandar, kini baru selesai 6 kapal dengan volume 69.550 ton beras. “Sementara, awal penyaluran beras impor ini dilakukan oleh kapal MV Sun Bright sejak tanggal 5 Desember 2012. Tepatnya, pada pukul 15.00 WIB,” katanya.
Pihaknya berharap, beras impor ini bisa tersalurkan secepatnya. Mengingat masih ada faktor penghambat lain yang dapat mengganggu kelancarana penyaluran beras, yaitu soal keterbatasan gudang penyimpanan, ketersediaan alat bongkar muat, termasuk kendaraan pengangkut hingga padatnya lalu lintas.”Contoh, arus kendaraan yang sangat padat di Pasuruan, ini bisa menghambat,” katanya.
Kepadatan arus kendaraan ini, juga akan diperparah, saat terminal Multipurpose Teluk Lamong mulai beroperasi. Volume kendaraan bisa mencapai 1.500 unit.”Untuk mengurangi kepadatan arus di Teluk Lamong, kami telah mengajukan surat permohonan pembangunan jalan langsung ke Romokalisari kepada Kementerian Pekerjaan Umum, keberadaan jalan langsung tersebut dapat mengurai kepadatan arus di jalur darat sehingga mampu mengurangi mahalnya biaya logistik di Indonesia,” harapan dia.
Terpisah, Kepala Bulog Divisi Regional Jawa Timur, Rusdianto, menyatakan, penyaluran beras impor asal Thailand yang disalurkan lewat Pelabuhan Tanjung Perak, banyak terkendala dengan minimnya gudang penyimpanan. “Secara keseluruhan importasi beras melalui Jatim akan ada 200.000 ton dan dititipkan di Gudang Bulog yang menyebar di Jatim. Alasannya, pelabuhan kecil di Kawasan Indonesia Timur tidak memiliki gudang,” katanya.

Menurut Rusdianto, penyaluran beras impor merupakan komoditas ketahanan pangan di wilayah kerjanya. Kini, penyaluran beras tahun 2013 di Jatim mencapai 42.000 ton per bulan dan bisa mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 11 bulan mendatang. “Dari 42.000 ton beras maka 30.000 ton di antaranya merupakan beras impor yang juga disimpan di gudang Bulog,” katanya. (K8/R7)