Cungkup Balai Pemuda Hilang, Dinilai Tim Cagar Budaya Disengaja

Surabaya – Anggota Tim Cagar Budaya Van fober AH Thony menyayangkan pengawasan proyek renovasi bangunan cagar budaya “Balai Pemuda” lemah. Menurutnya, balai Pemuda merupakan bangunan cagar budaya klafikasi A, artinya jika dilakukan pemugaran harus dikembalikan sesuai aslinya. Tetapi ironisnya, setelah renovasli selesai akhir Januari 2013, bagian atas bangunan berupa tiga cungkup justru hilang. Padahal, sesuai bentuk aslinya pada bagian atap terdapat cungkup.
“Tidak boleh ada perubahan, jika ada walau dari sisi lain harus dikembalikan” ujar mantan anggota DPRD Surabaya Periode 1999 – 2004.
Ia menegaskan sesuai UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Pasal 77 ayat 2, pemugaran cagar budaya harus memperhatikan keaslian , bentuk dan tata letaknya. Setelah melihat bangunan pasca renovasi yang menghilangkan tiga cungkup, AH Thony yakin terdapat unsure kesengajaan.
“Pada Desain ada (cungkup), ini bukan tidak ada unsure kesengajaan.” Sebutnya.
Bahkan, dalam anggran renovasi yang nilainya mencapai 1,3 milyar pembuatan cungkup telah dialokasikan.
Staf Pengajar universitas Dr. Soetomo ini memperkirakan keberadaan cungkup tersebut fungsinya untuk ventilasi.
“Pandangan arsitektur dulu, kemungkinan karena daerah tropis tidak ada AC, maka untuk sirkulasi udara” paparnya.
Thony menepis, Jika dinas cipta Karya dan tata ruang Pemkot Surabaya berdalih, karena anggaran tidak mencukupi akan dialokasikan tahun 2013. Menurutnya, alas an itu untuk menutup-nutupi kesalahan yang diperbuat oleh kontraktor.
“gak usah nutup-nutupi salah kontraktor, apa untungnya” tegas pria alumnus UGM ini.
Mantan anggota Komisi E DPRD Surabaya ini mengungkapkan, pelaku perusakan benda cagar budaya sesuai peraturan perundangan dapat dikenai sanksi pidana.
‘Sanksi pidana bisa berupa Penjara paling singkat 1 tahun, paling lama 15 tahun. Sementara denda minimal 500 juta, paling banyak 5 milyar” terangnya.
Untu itu, ia meminta pihak kontraktor dan Pemkot Surabaya berhati-hati dalam melakukan renovasi bangunan cagar budaya.
“Ini memang bukan persoalan gampang, tapi kehati-hatian perlu dilakukan supaya tidak ada sandungan seperti ini” kata Thony.
AH thony adalah orang yang pertama kali mengetahui hilangnya cungkup balai Pemuda. Dalam pengakuannya, tindakannnya yang melaporkan kasus hilangnya cungkup bangunan cagar budaya tersebut ke kejaksaan negeri sebenarnya bukan bermaksud membuat orang lain bermasalah. Ia hanya berharap benda cagar budaya kelas A bisa dikembalikan seperti bentuk semula. Untuk itu, ia mendesak dewan memfasilitasi hearing (dengar Pendapat) untuk membahas hilangnya cungkup Balai Pemuda denga melibatkan Kontraktor dan Pemkot Surabaya selaku pengawas proyek. (K-4)