Dana Patungan Hingga Promo Radio “Walls Day” di Soal Dewan

Surabaya,(DOC) – Komisi C DPRD Surabaya berencana memanggil crew redaksi salah satu stasiun radio siaran swasta yang turut serta menyiarkan penyelenggaraan bagi-bagi ice cream walls gratis di acara car free day minggu beberapa waktu lalu.
acara walls day yang diselenggarakan oleh PT Unilever tersebut disiarkan berulang-ulang hingga menarik ribuan massa untuk datang berebut ice cream gratis sampai merusak taman kota sekitar taman Bungkul.
“kami akan panggil redaksi radio swasta itu pada rapat berikutnya. harus ada klarifikasi promosi acara walls day dan himbauan pemakaian kaos warna merah kepada pengunjung yang disampaikan berulang-ulang. karena dalam sudut pandang politik bisa bermakna lain,” kata Sachirul Alim Anwar ketua komisi C DPRD Surabaya, disela hearing soal pengrusakan taman kota, Senin(19/5/2014).
Selain itu, komisi bidang pembangunan ini, juga mempersoalkan sikap Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang telah melunak dengan mencabut gugatannya ke PT Unilever atas tuduhan pengrusakan taman kota dan legalitas perizinan penyelenggaraan acara.
Walikota yang pernah menyampaikan alasan mencabut gugatan, karena merasa kasihan kepada PT Unilever yang kini menjadi korban pemerasan beberapa pihak, hanyalah pengalihan isu saja untuk mengelabui pencairan dana ganti rugi pembenahan taman senilai Rp. 1,2 miliar, tidak terkontrol. Apalagi sebelumnya Walikota telah gembar-gembor, soal dana patungan dari uang pribadi pejabat satuan kerja perangkat daerah(SKPD) untuk memperbaiki taman yang rusak.
“saya hanya ingin tau kebenaran soal statement bu Risma yang meminta dana patungan senilai 25 juta dari beberapa kepala SKPD untuk partisipasi perbaikan tanaman yang rusak, kalau benar, ini merupakan yang pertama terjadi karena dasar hukumnya tidak jelas jika dikaitkan dengan pengelolaan pemerintahan daerah, dan lagi, duit dari mana yang akan anda berikan, lha wong sudah diganti kok masih minta lagi ke anda,” ucap Adi dihadapan sejumlah kepala SKPD, peserta hearing.
Pertanyaan kritis juga disampaikan oleh Reni Astuti anggota komisi C lainnya. Politisi asal Fraksi Keadilan Sejahtera ini mencurigai adanya praktek pungutan liar(Pungli) dalam pengurusan izin setiap penyelenggaraan acara yang dilakukan oleh oknum pejabat dilingkungan pemkot Surabaya. Kacaunya acara Walls day hingga diikuti dengan rusaknya taman kota, merupakan indikasi sekaligus contoh pungli perizinan tersebut benar adanya.
“saya hanya minta cantolan aturan yang jelas terkait perijinan acara-acara seperti walls day kemaren itu, karena saya mencurigai jika sebelumnya juga telah terjadi kejadian yang sama hanya saja tidak menjadi persoalan, yakni acaranya terselenggara tetapi izinnya tidak jelas, jangan-jangan ada tindakan pungli didalamnya,”kata Reni.

Rapat dengar pendapat yang tak dihadiri oleh perwakilan PT Unilever, juga memberikan kesempatan kepada para SKPD untuk menjawab pertanyaan dewan sekaligus membela instisusi. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Ir. Musdiq Ali Suhudi, MT membenarkan adanya permintaan dana patungan sebesar Rp. 25 juta untuk membenahi Taman Bungkul. namun hal itu dibantah dengan spontan oleh Eddy, Kepala Dinas Perhubungan kota Surabaya.
“kami tidak pernah merasa mendapat perintah itu dan tidak melakukan hal itu, tolong hal itu tidak lagi menjadi pokok bahasan diruang rapat kali ini, karena kami khawatir akan menjadi bahan baru dipemberitaan media masa, lebih baik hal itu di kupas di pertemuan berikutnya setelah semuanya kepala SKPD dan bagian hukum hadir,” bantah Eddy.(r7)