Demi Keselamatan Dan Keindahan, Ribuan Tower Telekomunikasi Ditertibkan

Surabaya – Ribuan tower yang berdiri di Surabaya akan ditertibkan. Kalangan dewan saat in mulai menyusun Raperda Penyelanggaraan telekomunikasi bersama. Di dalamnya, menurut Anggota pansus, Rusli Yusuf akan mengatur penggabungan tower. Pembatasan jumlah tower  merujuk peraturan Menkominfo tahun 2009.

“Semestinya dua tahun sejak PP diterbitkan, tidak ada lagi satu operator satu tower” ujarnya, rabu (23/1/2013).

Namun, Surabaya baru membuat raperda tahun 2012. Nantinya, dalam satu menara hanya bisa ditempati 3 hingga 4 operator.

“Minimal 3 operator, boleh 4 sesuai dengan konstruksi” jelas anggota fraksi Partai Democrat ini.

Di Surabaya, pertumbuhan tower sangat pesat. Tiap tahun berdiri sekitar 100 tower. Saat ini jumlah tower yang berdiri diperkirakan mencapai  1.055 unit. Rusli mengakui, berdirinya menara telekomunikasi tersebut berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Karena tanpa adanya tower, komunikasi masyarakata akan sulit. Tetapi, menurutnya pendirian tower harus tetap diatur, tujuannnya untuk melindungi masyarakat, dan menjaga estetika kota.

“Harus diatur, pertimbangannya keindahan dan keselamatan” papar Rusli.

Senada dengan Rusli, anggota pansus lainnya, Tri setijo Puruwito, mengatakan,            dengan perda diharapkan pertumbuhan tower di Surabaya menjadi terkendali. Ia menganggap, jumlah tower yang berdiri mencapai ribuan membahayakan.

“Dalam hitungan kita ribuan tower mengerikan, karena menumpuk di tengah kota” sebut anggota FPKS.

Apalagi dari sejumlah tower yang ada berdiri di kawasan pemukiman. Melalui perda itu, ia menegaskan ada jaminan, bahwa tower yang berdiri aman. Masyarakat yang tinggal di sekitar tower di radius 125 meter akan mendapatkan asuransi. Dalam pembahasannya, pansus raperda penyelenggaraan telekomunikasi bersama akan memanggil pihak terkait, diantaranya pemilik tower. (K-4)