Densus 88 Geledah Rumah Di Malang, Polda Jatim Ungkap 13 Pelaku Bom Tertangkap

Malang,(DOC) – Sebuah rumah di Jalan Kapi Sraba XI, Pakis, Kabupaten Malang Jawa timur, digeledah oleh pihak kepolisian. Rumah tersebut milik Ida(45), terduga teroris jaringan pelaku bom bunuh diri yang diamankan di Sidoarjo, Senin(14/5/2018) pagi tadi.

Selama 14 tahun Ida(45) tinggal bersama Arifin suaminya yang bekerja di Kantor Pos Besar Malang jawa Timur .

Menurut keterangan warga sekitar, Ida yang selama ini berjualan krupuk dan telor asin, sudah lama pergi meninggalkan suaminya dan tak diketahui kemana. Wanita bercadar ini, dikenal ramah terhadap tetangganya, meski kehidupan mereka tertutup.

“Orangnya bercadar,  kesehariannya menjual telur asin dan kerupuk asal Sidoarjo. Kabarnya Bu Ida diamankan polisi di Sidoarjo, karena keterkaitan dengan peristiwa bom bunuh diri,” ujar Budiono, tetangganya, Senin(14/5/2018) sore.

Budiono yang pernah mengerjakan pagar rumah Ida ini, tak melihatnya selama 3 bulan terakhir. “Tiga bulan tak berjualan. Mungkin karena tak punya anak sehingga bisa sedikit bebas ber-pergian. Kami sebagai tetangga tak mengira kalau ada kaitannya dengan jaringan pelaku bom bunuh diri, selama ini dia sayang sama kucing dan dirawatnya,” imbuhnya.

Penggeledahan dilakukan mulai pukul 14.00 WIB siang sampai pukul 17.15 WIB dan polisi memasang police line. Saat penggeledahan berlangsung warga dihimbau tak meninggalkan rumahnya masing-masing.

Terpisah, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengungkapkan, sebanyak 13 orang terduga teroris telah di tangkap Densus 88 hingga saat ini. Rinciannya, 4 orang ditembak mati dan 9 orang ditangkap dalam kondisi hidup.

“Hari ini melakukan penindakan yang dilakukan untuk menggagalkan beberapa aksi mereka, Ada 13 pelaku 4 kita tangkap meninggal dunia dan sembilan ditangkap hidup,” katanya.

Salah satu terduga teroris ditangkap di Jalan Ahmad Yani, dekat gedung Graha Pena dan di salah satu pertokoan mall di Surabaya. Namun, polisi enggan mengungkap sasaran para terduga teroris yang telah ditangkap di Surabaya dan Sidoarjo tersebut.

“Untuk aksi kami tidak ingin menyampaikan ke publik sasaran mana saja, karena ada sesuatu yang jadi pertimbangan pimpinan dan ada UU Nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik bahwa info yang akan kami sampaikan mempengaruhi keamanan dan penyelidikan dalam rangka melawan teror,” ujar Frans.

Kapolda Jawa Timur Machfud Arifin menyatakan jumlah korban meninggal dari peristiwa ledakan bom di dua tempat, yaitu Surabaya dan Sidoarjo mencapai 25 orang.

Hal ini disampaikan Kapolda saat menggelar konfrensi pers di Mapolda Jatim bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

“Jumlah tersebut termasuk ledakan yang terjadi pagi hari ini sekitar pukul 08.50 WIB di Mapolrestabes Surabaya,” katanya.

Aksi bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo diduga dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansarud Daulah (JAD) cabang Surabaya yang ditengarai memiliki motif balas dendam, setelah salah satu pimpinannya Maman Abdurrahman tertangkap beberapa waktu lalu karena kasus pendanaan serta mengorganisir latihan para anggota militer illegal bersenjata di Aceh.

“Pimpinan mereka yang seharusnya keluar Agustus tahun lalu tetapi ditangkap kembali karena diduga keras terkait dengan perencanaan pendanaan kasus bom Thamrin di Jakarta tahun 2016 yang kemudian berganti kepemimpinan bernama Jainal Ansori yang sekitar 5 – 6 bulan yang lalu ditangkap oleh mabes polri terkait pendanaan senjata api dari Filipina ke Indonesia,” beber Kapolri Jenderal Tito Karnavian.(nps/had/r7)