Desain Pasar Turi Baru Diubah, Pedagang Meradang

Tidak ada komentar 141 views

Surabaya, (DOC) – Pedagang Pasar Turi lama tahap I, II dan IV yang stannya terbakar 5 tahun silam, Selasa (27/11) siang menyampaikan uneg-uneg kepada Pemkot Surabaya, terkait perubahan desain Pasar Turi Baru yang menurut pedagang dilakukan secara sepihak oleh investor.
Wakil Ketua Tim Pemulihan Paska Kebakaran (TPPK) Pasar Turi Kho Ping menegaskan, pihaknya bersama sejumlah perwakilam elemen pedagang Pasar Turi, seperti Himpunan Pedagang Pasar (HPP) Pasar Turi, dan Paguyuban Pedagang Pasar Turi Bersatu (P3TB) dan P3T datang ke Pemkot Surabaya untuk menindaklanjuti adanya perubahan desain (denah)) Pasar Turi Baru.
“Denahnya diubah oleh investor. Ini jelas merugikan pedagang. Contohnya, eskalator yang semula dua arah, tapi di ubah jadi satu arah. Kami tak ingin pengalaman tahun sebelumnya terulang, di mana lahan untuk eskalator jadi open space (tempat terbuka) yang ujung-ujungnya jadi stan, dan diperjualbelikan. Jadi investor tak boleh sewenang-wenang rugikan pedagang” ujarnya di lobi Balai Kota, Selasa (27/11) siang.
Karena itu, jika pengembang tetap nekad, pedagang yang berjumlah 3.780 mengancam akan memboikot angsuran pembayaran stan Pasar Turi Baru. “Pokoknya kalau belum ada kejelasan dari Pemkot atau pengembang kita akan boikot masalah angsuran. Dan harapan kami, Pemkot mensuport pedagang karena perubahan ini kan sepihak,” ungkapnya.
Sementara Ketua P3T, H Sahli, menyatakan berdasar data dari Pemkot Surabaya saat ini ada sekitar 202 pedagang yang tak bisa masuk ke Pasar Turi Baru nanti. Mereka daftar terlambat karena tak ada pemberitahuan ke rumah masing-masing. Pemberitahuan dilakukan lewat koran. “ Di luar 202 itu, masih ada sekitar 470 pedagang yang tak bisa mendapatkan stan,”ujarnya.
Karena itu, lanjut dia, pihaknya menuntut kepada Pemkot agar para pedagang bisa masuk semua. “Jika ini tak terealisasi, kita akan tuntut ke pengadilan,” tandasnya.
Terpisah, Asisten II Muhlas Udin menegaskan, bahwa investor Pasar Turi Baru adalah PT Gala Megah Investment (GMI). Prinsipnya bangunan Pasar Turi itu adalah Build Operate And Transfer (BOT), yakni milik pemerintah yang diopersikan pihak swasta dalam jangka waktu tertentu (dalam hal ini 25 tahun).
Karena ini milik Pemkot, lanjut Muhlas, maka investor tak boleh seenaknya melakukan perubahan denah. Apa tak boleh diubah? “Ya, boleh diubah. Tapi ada mekanismenya, yakni investor harus mengajukan perubahan itu ke Pemkot. “Lha para pedagang yang sudah beli atau kontrak akan kita tanya, desain akan diubah mau enggak. Kalau enggak mau, ya investor enggak bisa mengubah. Intinya seperti itu,” terang Muhlas.
Untuk itu, Pemkot akan memberitahu kepada investor maupun pedagang ada rambu-rambu yang harus ditepati. Diakui Muhlas, selama ini investor belum mengajukan perubahan desain ke Pemkot. Tapi dirinya sudah slenak-slenik supaya investor tidak menimbulkan kerugian lebih besar.
“Ya, investor juga belum melakukan perubahan. Bahkan, saya sudah kirim insinyur untuk melihat dan mencocokan gambar sama lahan. Jadi, perubahan itu hanya sebatas usulan atau ide. Tapi kalau sudah timbul tiang, ya nanti akan kita robohkan. Ya, lebih baik mencegah ketimbang telanjur,” terangnya, seraya menambahkan, ini akan dipaparkan dihadapan pedagang maupun investor agar tidak terjadi salah paham. (r-12)