Dewan Minta Tarif Tol Turun Tidak Dijadikan Komoditi Pencitraan

Surabaya (DOC) – Komisi D DPRD Jatim mengapresiasi dengan sikap pemerintah yang akan menurunkan sejumlah tarif tol dari Rp1500/km menjadi Rp1.000/km. Namun para wakil rakyat tidak ingin penuruna tersebut hanya untuk pencitraan jelang Pilpres 2019 mendatang.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim, Hammy Wahjunianto menegaskan jika penurunan tarif tol adalah lumrah. Mengingat Gubernur Jatim Soekarwo telah berkirim surat ke Kementrian Perhubungan serta Komisi D telah bertemu yang meminta tarif tol ditinjau kembali.

“Kami berharap penurunan ini benar-benar untuk membantu masyarakat, bukan pencitraan. Dan memang dibanding dengan negara lain, tarif tol di Indonesia sangatlah mahal,’’ tandas politikus asal PKS, Selasa (27/3/2018).

Ditambahkan, dalam setiap pembangunan pasti ada FS (fisibilty study) . Nah, seharusnya FS tersebut dibuka untuk umum. Apalagi pembagunan fasilitas umum tersebut menggunakan anggaran APBD atau APBN. ‘’Dengan begitu masyarakat akan ikut mengontrol pembangunan tersebut. Termasuk soal tarif yang digunakan,’’ akunya.

Tapi tidak demikian dengan di Indonesia. Termasuk soal konsinyasi seharusnya pemerintah juga tersebuka. Jika sebelumnya ditetapkan selama 15 tahun dan kini berubah menjadi 35 tahun, pemerintah harus terbuka soal untung dan ruginya adengan proses konsinyasi.

Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi D DPRD Jatim Achmad Heri. Menurut politikus asal Nasdem ini jika dengan mahalnya tarif tol mulai Pasuruan hingga Madiun banyak masyarakat khususnya pelaku ekonomi memilih untuk melintas dibawah. Ini karena tariff tol tidak nutut harganya dengan barang yang akan dijual. Itu artinya sama dengan berdirinya tol tidak mampu meningkatkan pendapatan masyarakat disana.

“Sudah sewajarnya, tarif tol diturunkan jika mau ekenomi masyarakat naik. Sedang untuk konsinyasi bisa diperpanjang asalkan masyarakat tidak dirugikan. Mengingat berdirinya tol, salah staunya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang dilewati jalan tol,’’ tandasnya. (bah)