DI Bantah Dugaan Korupsi Flame Turbin Dilakukan Direksi PLN

Jakarta, (DOC) – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan memastikan bahwa tuduhan korupsi PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero) atas pengadaan Flame Turbin GT2.1 dan GT 2.2 di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Belawan bukan dilakukan di kalangan Direksi PLN.
Dahlan mengatakan bentuk pelaksanaan untuk pengadaan barang dan jasa yaitu flame turbin tersebut para pelaksana dilapangan. Jadi mereka yang lebih mengetahui anggaran yang dikeluarkan untuk pengadaan barang dan jasa tersebut.
“Tapi yang pasti bukan ditingkat Direksi. Itu untuk mengetahui pelaksanaan di lapangan, bukan berarti karena direksinya mau jadi tersangka,” kata Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (29/11/2013).
Akan tetapi Dahlan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak Kejaksaan untuk membuktikan apakah Direksi PT PLN terbukti melakukan korupsi atau tidak. Namun jika terbukti melakukan korupsi, Dahlan mempersilahkan kepada Kejaksaaan untuk memberikan hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Tapi kalau ditemukan korupsi silahkan saja, kalau ada buktinya,” kata Dahlan.
Sebelumnya Sekretaris Perusahaan PLN Adi Supriono menjelaskan dalam pengadaan barang dan jasa maupun sparepart dilakukan sesuai dengan koridor perusahaan. “Tidak ada kerugian perusahaan. Intinya bahwa apa yang dituduhkan itu tidak ada,” kata Adi.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji pada Kamis (28/11/2013) diperiksa penyidik selama 7 jam sejak 09.00. Namun penerima Bung Hatta Anti Coruption Award ini enggan menjelaskan seputar mekanisme dan prosedur tender, dalam kasus pengadaan suku cadang pembangkit GT 2.1 dan 2.2.
Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Setia Untung Arimuladi, Nur Pamudji diperiksa untuk dugaan Tindak Pidana Korupsi pengadaan Flame Turbin GT 2.1 & GT 2.2. Untung mengungkapkan selain memeriksa Nur Pamudji, Kejaksaan Agung juga memanggil dua orang saksi lain yaitu, Dirut PT Nusantara Turbine Propolis Supra Dekanto dan Direktur Operasi dan Niaga PT Nusantara Turbine Propolis Triyono. Mereka menjalani pemeriksaan di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013).
Nur Pamudji tiba di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, sekitar pukul o9.00 dengan menggunakan Kijang Inova hitam nomor plat B 1627 TOT. Pemeriksaan tersebut berlangsung hingga tengah hari, dan ditunda untuk istirahat dan makan siang. Saat ditemui usai istirahat makan siang, Nur Pamudji menolak memberikan penjelasan mengenai pemeriksaan yang dijalaninya dan kembali masuk ke dalam Gedung Bundar.
Dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan Flame Turbin GT 2.1 & GT 2.2 Belawan Medan ini kejaksaan telah menetapkan lima orang sebagai tersangka, yakni Chris Leo Manggala, Surya Dharma Siregar, Supra Dekamto, Rodi Cahyawan. “Kelimanya ditahan selama 20 hari ke depan sesuai surat perintah penahanan hari ini,” kata Untung di kantornya, kemarin.
Mereka disangka dengan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Untung mengungkapkan pelaksanaan proyek tersebut diduga tidak sesuai spesifikasi sehingga menimbulkan kerugian negara mencapai Rp 23,94 miliar. Pengacara para tersangka, Ahmad Sukrisno, yang dikonfirmasi tidak bersedia berkomentar.
Kasus korupsi di PLN Belawan ini terjadi tahun anggaran 2012, dimana dalam pengadaan barang dan jasa maupun sparepart dilakukan melalui penunjukan langsung rekanan pelaksana. Dalam kasus tersebut diduga terjadi mark up (penggelebungan harga) satuan barang hingga negara dirugikan.
Total anggaran untuk pengadaan barang, jasa dan onderdil pada TA 2012 di PLN Belawan atau GT 2.1 dan GT 2.2 peruntukan PLTU Blok 2 Belawan bernilai Rp 553 miliar. Untuk memastikan berapa kerugian akibat penyelewengan tersebut kejaksaan tengah meminta audit auditor. (gn/r4)