Diancam Pecat, Pilih Mundur Jadi Kepala Sekolah

Tidak ada komentar 362 views

Surabaya, (DOC) – Mantan Kepala Sekolah SMPN 31 Jalan Dukuh Bulak Banteng Sekolahan No 40 Surabaya, Aniek Handajani, kemarin (18/3) mendatangi gedung dewan. Di hadapan anggota Komisi D (pendidikan dan kesra) ia mengaku kerap mendapat intimidasi lantaran diduga mbolos selama 30 hari.
“Saya pastikan apa yang dituduhkan kepada saya itu tidak benar,” kata Aniek Handajani.
Aniek mengungkapkan, alasan dirinya mengundurkan dari jabatan kepala sekolah SMPN 31 pada 31 Agustus 2013 karena sudah tidak kuat dengan intimidasi yang ia terima. Bahkan setiap hari selalu ada oknum-oknum pihak sekolah yang mencari kesalahannya.
Puncaknya, pada bulan September ia didatangi oleh pejabat dari inspektorat dan badan kepegawaian dan diklat (BKD). Dari informasi yang diberikan wakil kepala sekolah SMPN 31Sunarno, petugas yang datang berjumlah tiga orang.
“Dari tanggal 1 Agustus -31 saya masuk terus. Memang saya pernah tidak masuk, itupun karena mengikuti sosialisasi kurikulum. Saya ini berapa sih gajinya. Dari pada menjadi kepala sekolah tapi kesalahan saya terus dicari-cari dan diancam dipecat tidak hormat, lebih baik saya mengundurkan diri saja,” ungkapnya.
Lebih jauh, Aniek juga mengaku tidak terima jika disebutkan selalu datang ke sekolah pada siang hari. Hal itu bisa dibuktikan dengan bertanya langsung kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, Alumni S1 IKIP Surabaya Surabaya ini juga mengaku tidak tidak terima jika dituding melakukan pelanggaran berat. Sebab selama menjadi kepala sekolah ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi SMPN 31.
Menurutnya, sesuai dengan ketentuan pelaksanaan peraturan pemerintah no 53 tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), seorang PNS dapat dianggapa melakukan pelanggaran diantaranya jika menyalahgunakan wewenang.
Kedua, memiliki menjual membeli menggadaikan menyewakan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak. Baik itu berupa dokumen atau surat surat berharga milik negara secara tidak sah dan pelanggaran itu berdampak negatif pada pemerintah atau negara.
“Kalau saya dituduh melakukan pelanggaran itu yang mana?, tolong disebutkan. Dan saya menduga Zulkifli (bagian TU) yang selalau mencari kesalahan agar saya dipecat,” terang perempaun kelahiran Surabaya itu.
Mendapati keterangan demikian, Ketua Komisi D Baktiono meminta agar bagian tata usaha SMPN 31 Zulkifli, dihadirkan dalam pertemuan kali ini. Dengan harapan, keterangan yang diberikan Zulkifli tidak terkontaminasi oleh oknum tertentu.
“Kalau rapat ini ditunda, saya khawatir keterangan yang diberikan sudah tidak murni lagi. Kita ingin keterangan yang seutuhnya dan tidak dibuat-buat makanya sekarang kita undang saja ke sini (komisi D),” jelas Baktiono.
Sementara itu, Zulkifli membantah tudingan yang disampaikan Aniek Handajani. Menurutnya, kedatang bagian inspektorat dan BKD secara tiba-tiba, yaitu pada pukul 08.00-09.00 atau sebelum kepala sekolah datang.
“Waktu itu kita ditanya dimana kepala sekolah. Karena belum ada, akhirnya kita terima di ruang TU,” ujar Zulkifli.
Setelah itu, absen kehadiran guru diminta oleh kepala sekolah dan hingg sekarang ia tidak tahu dimana keberadaanya. “Dilihat dari absen daftar kehadiran memang 100 persen tidak masuk pada bulan Agustus. Tapi kegiatan kepala sekolah itu kan tidak hanya di dalam sekolah tapi juga di luar,” timpal Wakil Kepala Sekolah SMPN 31 Narno.
Apalagi kepala sekolah waktu itu juga sedang sibuk mengurus ke dua anaknya, mengingat saat itu juga sedang mengurus surat perceraian dengan suaminya. “Yang jelas, secara administrasi bu Aniek tidak tanda tangan,” tegasnya.
Semenatara Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya M. Ikhsan tidak mengaku tidak mengetahui masalah tersebut. “Terus terang kita tidak ngerti masalah ini. Kita baru tahu sekarang,” kata Ikhsan.
Menyikapai keterangan yang diberikan pihak SMPN 31 dan Kepala Dinas, anggota Komisi D Masduki Toha, meminta agar Dindik meningkatkan upaya pembinaan kepala sekolah di seluruh Surabaya.
“Pembinaan kepada kepala sekolah harus ditingkatkan. jika kepala sekolah dan TU sudah tidak sejalan, bagaimana mau memikirkan kemajuan sekolah,” pungkasnya. (k1/r4)