Diduga Banyak Warga Surabaya Menjadi Korban Dimas Kanjeng, Pemkot Diminta Mendata

Surabaya,(DOC) – Tertangkapnya Dimas Kanjeng Taat Pribadi oleh Polda Jatim memang membuat geger seluruh masyarakat se Indonesia.

Bagaimana tidak banyak masyarakat yang telah setor uang ke Dimas Kanjeng untuk digandakan. Tak terkecuali warga Surabaya yang diduga banyak yang menjadi korban aksi penipuan penggandaan uang tersebut.

Dimas Kanjeng yang selama ini menobatkan diri sebagai raja dengan mendirikan padepokan di Probolinggo, nyaris menjadi publik figur bagi warga dipelosok Nusantara. Bahkan banyak korban yang rela menjadi santri Dimas Kanjeng dan menetap di padepokannya selama berbulan-bulan hingga tahunan.
Namun sekarang ini, suasana Padepokan berbalik mencekam pasca orang yang dianggap sakti itu ditahan oleh Polda Jatim. Para santrinya banyak yang pulang kampung tanpa hasil. Tapi masih ada santri yang percaya bahwa Dimas Kanjeng punya kekuatan melipat gandakan uang dan bertahan di sekitar Padepokan.

Menanggapi hal tersebut, Ratih Retnowati Wakil Ketua DPRD kota Surabaya meminta kepada Pemkot Surabaya untuk turun ke lokasi, dengan melakukan investigasi, mencari warga Surabaya yang menjadi korban dan memilih bertahan.
“Sudah sepatutnya Pemkot Surabaya juga proaktif untuk melakukan pengecekan di padepokan milik Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu, jangan-jangan juga ada warga kita (Surabaya-red) yang disana dan masih bertahan,” ucapnya, (5/10/2016)

Politisi perempuan asal Partai Demokrat ini merasa prihatin dengan kondisi ribuan warga yang masih mempercayai Dimas Kanjeng Taat Pribadi.
“Sebagai sesama umat, secara pribadi kami sangat prihatin dengan keberadaan warga yang saat ini menjadi pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dan masih bertahan disana, karena tentu kehidupannya mulai tidak nyaman, dan nasibnya mulai tidak jelas, untuk itu wajib bagi kita untuk mengingatkan sekaligus menolong,” imbuhnya.

Untuk diketahui, pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang saat ini hidup dengan rumah tenda di kawasan padepokan tercatat sejumlah 286 orang, sedangkan pengikut lainnya diperkirakan bermukim di rumah warga sekitar lokasi.(spn/r7)