Dilarang Di Taman Bungkul, Pedagang Asongan Demo Kantor Satpol PP

Surabaya (DOC) – Sejumlah pedagang asongan yang biasanya berjualan di taman bungkul Surabaya, bersama para penyedia jasa sepeda skuter melakukan demonstrasi ke kantor satpol PP kota Surabaya. Mereka memprotes kebijakan pemerintah kota Surabaya yang melarang berdagang di area taman itu. Koordinator pedagang asongan, Aris Gunawan, Kamis (11/4/2013) mengaku akibat larangan tersebut, pihaknya kesulitan mencari nafkah. Padahal, para pedagang terebut telah memiliki keluarga.
“Pedagang kayak penjual narkoba, kita berjualan halal kok diusir. Kalau seperti in mau makan apa, apa jualan narkoba” teriaknya.
Aris mengungkapkan telah berjualan di taman bungkul sekitar 4 tahun. Rata-rata mereka beroperasi mulai Pk. 19.00 – 24.00 WIB. Meski sosialisasitelah dilakukan hamper 5 bulan, namun larangan asongan beroperasi di area public itu sekitar satu minggu. Ia mengaku resah dengan tindakan satpol PP yang langsung mengambil barang dagangan para asongan saat penertiban.
“Satpol PP kayak preman aja, mengambil tanpa surat sitaan” kata Aris dengan nada geram.
Meski barang dagangan berupa termos dan kelengkapan jualan disita aparat Satpol PP dikembalikan ke pemiliknya. Namun para pedagang mengeluhkan jangka waktu pengembalian yang berlangsung lama.
Dalam aksi demo di kantor Satpol PP, para pedagang asongan dan penyedia jasa sepeda skuter membawa spanduk dan poster yang berisi kecaman atas kebijakan pemkot Surabaya itu. Saat pertemuan dengan kasatpol PP Surabaya, irvan Widiyanto berlangsung panas. Beberapa perwakilan pedagang sempat debat kusir dengan kasatpol soal larangan itu.
Usai menemui para peagang, kepada para wartawan Irvan mengatakan, tetap akan melanjutkan penertiban. Larangan para pedagang asongan dan penyedia jasa sepeda skuter menurutnya tidak hanya berlaku di Taman bungkul.
“semua taman di Surabaya, termasuk taman mundu. Pedagang tidak boleh naik” tegasnya.
Kebijakan itu bertujuan untuk mengembalikan fungsi taman sebagai area public. Pasalnya selama ini menurutnya, banyak keluhan masyarakat akibat banyaknya asongan dan sepeda skuter yang lalu lalang.
“Pengunjung mengeluh sesak karena skuter. Beberapa kali pengunjung tertabrak sepeda skuter” paparnya.
Ia mengungkapkan, di taman bungkul jumlah sepeda skuter yang disewakan sekitar 170 unit. Sementara jumlah pedagang asongan yang beroperasi mencapai 350-an pedagang.
Irvan mengakui, ramainya pengunjung di area taman bungkul membawa peluang bisnis. Namun, keberadaan meraka yang terlalu banyak mengakibatkan para pengunjung tidak nyaman. Meski, satpol PP telah mengeluarkan kebijakan jalan tengah dengan memberi ruang untuk berdagang dengan catatan tidak membawa alat peraga (termos) dan hanya membawa daftar menu serta membatasi jumlah sekuter yag disewakan ke para pengunjung di kawasan taman, namun ketentuan tersebut tetap mendapat penolakan dari para pedagang. Pihak pedagang akan menyampaikan surat aduan kepada walikota Surabaya. Jika aspirasi mereka tidak ditanggapi, sejumlah pedagang asongan berencana melakukan aksi demo besar-besaran ke kantor satpol PP Surabaya. (K-4)