Dinas Peternakan Jatim Latih 200 Juru Sembelih

Tidak ada komentar 674 views

Surabaya,(DOC)-Jelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1933 H, Dinas Peternakan Jatim bekerjasama dengan Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim memberikan pembekalan dan pelatihan kepada 200 orang juru sembelih di seluruh masjid di wilayah Jatim. Pelatihan juru sembelih baru itu dilakukan agar penyembelihan dapat sesuai ketentuan dan standar.

“Jika hewan kurban disembelih dengan benar, maka daging yang dihasilkan dari penyembelihan selama Idul Adha tersebut layak dikonsumsi. Saat Idul Adha, penyembelihan dilakukan diberbagai tempat dan lokasi sehingga perlu pembekalan yang tepat bagi para juru sembelih,” kata Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir Maskur MM, Kamis (18/10).

Ia menjelaskan, sesuai aturan yang ada, sebenarnya penyembelihan hewan harus dilakukan di rumah potong hewan (RPH) ruminansia yang telah ada. Namun, saat dengan lokasi yang tersebar di berbagai daerah hinggapeelosok Jawa Timur, maka mulai tahun ini pihaknya memberikan pembekalan bagi 200 juru sembelih. “Harapan kami, juru sembelih tersebut akan menularkan ilmu yang didapat kepada juru sembelih yang lain,” ujarnya.

Menurut Maskur, ada beberapa persyaratan dalam pelaksanaan penyembelihan agar daging layak konsumsi, diantaranya hewan harus diperlakukan dengan baik, selain itu hewan juga harus dipuasakan agar kotorannya tidak terlalu banyak, dan tidak boleh dijatuhkan dengan keras saat membaringkan hewan kurban sebelum disembelih.

Selain pengetahuan juru sembelih, sebelumnya juga harus disiapkan beberapa hal seperti misalnya kesrawan atau kesejahteraan hewan. Begitu juga dengan peralatan seperti pisau, alat penggantung, dan penyiapan lubang darah. Maskur mengingatkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membeli hewan kurban. Diantaranya kulitnya harus mulus, kedua matanya dalam kondisi sehat atau tidak mengalami kebutaan dan pasti jantan.

Guna memantau proses penyembelihan agar layak dan sesuai ketentuan, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Peternakan kab/kota se-Jatim juga membentuk tim pengawas untuk melakukan pemeriksaan, apakah hewan tersebut berpenyakit atau sehat dan layak konsumsi. “Kami telah meminta pemerintah kabupaten/kota di Jatim segera membentuk tim pemantau kesehatan hewan kurban. Pemantauan kesehatan dilakukan mulai dari ante mortem hingga post mortem,” ujarnya.

Biasanya, kata dia, hewan kurban juga ada yang berpenyakit seperti cacing hati dan lain-lain yang memang baru akan diketahui setelah ternak dipotong. Karena itu, lanjut dia, nantinya akan ditempatkan petugas di masing-masing titik untuk melaporkan jika ada temuan satwa yang mengandung cacing di hatinya. Tim pengawas tersebut terdiri dari dokter dewan, paramedis, dan petugas peternakan serta dari perguruan tinggi.

Pengawasan seperti ini, dikatakan Maskur, juga merupakan upaya untuk mempertahankan kondisi Jatim sebagai propinsi yang bebas dari anthrax dan penyakit ternak lainnya. Beberapa daera perbatasan seperti Banyuwangi, Tuban, Ngawi, Mantingan dan Magetan merupakan wilayah-wilayah yang rawan dimasuki hewan pembawa penyakit. (R-12/R9)