DPU Bina Marga Tak Perbaiki Gorong-Gorong, Warga Nginden Jangkungan Mengeluh

Surabaya,(DOC) – Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya kembali menuai protes dari warga atas pekerjaannya yang amburadul.

Proyek pembangunan gorong-gorong diwilayah Nginden Jangkungan yang sudah terbangun rapi, dirusak lagi dan dibiarkan terbuka. Akibatnya bau busuk yang keluar dari saluran, mengganggu sekitar pemukiman warga RT 001/ RW 001, Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo Surabaya.

Salah satu warga Nginden Jangkungan, Kam Liang Nio, menyatakan terganggu atas bau saluran tersebut. “Kebetulah rumah saya berdekatan dengan bekas galian, sehingga saya merasa tersiksa,” ujarnya, Rabu(2/11/2016).

Bukan hanya pemilik Rumah Toko (Ruko) dikawasan Nginden Semolo II-C yang mengeluh atas bau akibat rusaknya gorong-gorong, namun juga warga lainnya. Setiap hari warga menghirup bau tak sedap dan bahkan saluran yang rusak itu, membuat pembuangan air tidak lancer menggenangi area rumahnya.

Padahal disekitar gorong-gorong terdapat rumah praktek dokter, rumah indekost dan toko makanan.

“Tidak harus menunggu hujan, sekarang saja rumah yang kami tempati banjir, karena air pembuangan tidak bisa keluar. Sampeyan lihat sendiri, baunya cukup mengganggu. Kata warga, beberapa waktu lalu sempat ada yang melakukan penggalian, tapi tidak tahu gali apa. Setelah beberapa lama, kok buntu. Yaa, ini akibatnya,” ujar Kam Liang, sembari menunjukkan surat tertulis yang dikirimkan ke Dinas PU.

Dijelaskan olehnya, dilayangkannya surat pengaduan itu, setelah ia melaporkan masalah ini ke petugas lapangan, namun tidak ada tindaklanjut. Petugas yang dilapori beralasan, jika atas laporan warga ini, tidak direspon oleh pimpinannya yang ada di pemkot.

“Terpaksa saya datang ke Pemkot untuk melaporkan keluhan saya ini. Hampir setiap hari, kami menyedot air selokan yang tidak bisa keluar. Sudah hampir dua bulan ini rumah kami digenangi air kotor. Belum lagi kalau hujan, tambah parah,” sambungnya.

Masih kata ia, pengaduan akibat saluran/gorong-gorong air depan rumah buntu itu, sudah dilaporkan sejak empat minggu lalu. Atas laporan itu, petugas lapangan bernama Idi lantas mendatangi lokasi dan memotret kondisi tersebut. Pada tanggal 28 Oktober lalu, ia lantas menghubungi petugas yang datang ke rumah. Alangkah terkejutnya, ia mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan dari petugas.

“Katanya Bpk Idi sudah disampaikan ke atasannya, tapi tidak direspon. Sehingga sejak saat itu, bagian lapangan tidak kembali lagi. Kalau seperti ini, kami harus mengadu ke mana. Kalau memang diperlukan harus ada biaya, kami tidak mempersoalkan. Tapi jangan sebagai warga, pengaduan kami tidak direspon. Kami sebagai warga, tidak digantung,” keluhnya.

Kabid Pematusan Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya, Samsul saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya menyatakan, terdengar nada sambung, namun oleh yang bersangkutan tidak dijawab. Tak lama kemudian, saat dihubungi kembali, nomor yang bersangkutan tidak aktif. Bahkan saat di sms (short message service), yang bersangkutan tidak membalasnya.(pro/r7)