Dua Pejabat Bank Jatim Ditahan Lagi Oleh Kejari

Tidak ada komentar 27 views

foto : salah satu Pejabat Bank Jatim saat penahanan

Surabaya,(DOC) – Dua orang tersangka kasus korupsi bank Jatim kembali ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, Kamis(9/11/2017) kemarin.

Dua orang tersebut yakni Harry Soenarno Pimpinan Cabang Pembantu Bank Jatim Bangil, Pasuruan dan Iddo Laksono Hartanto, Asistant Relationship and Manager Bank Jatim.

Sebelumnya, Kejari juga telah menahan dua pejabat bank Jatim dalam kasus yang sama, yaitu Wonggo Prayitno (mantan pimpinan Divisi Kredit KMK Bank Jatim) dan Arya Lelana (mantan Pimsubdiv Kredit KMK Bank Jatim).

Keduanya ditahan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bidang Pidsus usai menjalani rangkaian administrasi pelimpahan tahap II dari Bareskrim Mabes Polri, yang berlangsung Kamis(9/11/2017) siang, sekitar pukul 13.14 WIB hingga pukul 16.15 WIB.

Kedua tersangka ini tidak ditahan oleh Penyidik Bareskrim Mabes Polri saat pemeriksaan. Penahanan baru dilakukan oleh Jaksa setelah berkas dilimpahkan.

“Karena rasa keadilan dan untuk mempermudah persidangan, kedua tersangka HS dan ILH yang sebelumnya tidak ditahan, akhirnya kami tahan di Rutan Medaeng selama dua puluh hari kedepan,”terang Kasipidus Kejari Surabaya, Heru Kamarullah didampingi Kasintel, I Ketut Kasna Dedi saat dikonfirmasi, Jumat(10/ 11/2017).

Kedua tersangka dianggap turut serta melakukan  korupsi kredit macet PT Bank Jatim ke PT Surya Graha Semesta (SGS) senilai 147 miliar.

“Kedua tersangka ini juga berperan dalam pemberian kredit ke PT SGS yang telah melanggar SK Direksi Nomor 048/203/KEP/DIR/KRD tertanggal 31 Desember 2010. Pada proses pemberian penasabahan plafon kredit stanby load kepada PT SGS dari nilai awal Rp 80 miliar menjadi Rp 125 miliar,” ungkapnya.

Pemberian kredit tersebut tidak sesuai dengan DER (Debt Equity Ratio) dan dokumen SPMK. Selain itu berdasarkan fakta ternyata PT SGS tidak pernah mendapatkan proyek-proyek APBD, tapi telah diajukan dalam proses penambahan plafon kredit dan tidak sesuai dengan ketentuan buku Pedoman Perkreditan Kredit Menengah dan Korporasi SK Nomor 043/031/KEP/DIR/KRD tanggal 28 Februari 2005 yang kemudian dilakukan perubahan pada Buku Pedoman Pelaksanaan Kredit Menengah dan Korporasi SK Dir Nomor 047/001/DIR/KRD tanggal 30 Januari 2009.

“Keduanya ikut andil pada kasus ini,”sambung Heru.

Akibat perbuatannya, Harry dan Iddo akan dijerat dengan pasal berlapis. “Mereka dijerat Pasal 2, pasal 3 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP,” terangnya.(pro/r7)