Ekonomi Surabaya Di Puji Dalam Lomba Unit Pelayanan Publik

Surabaya,(DOC) – Kota Surabaya menyertakan dua wakilnya dalam lomba unit pelayanan publik tingkat provinsi. Yakni, Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA) dan Puskesmas Ketabang. Kamis (12/9), kedua instansi tersebut ditinjau langsung oleh tim juri guna mendapat gambaran riil proses pelayanan.
Pertumbuhan ekonomi Surabaya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal tersebut sesuai dengan arah kebijakan Kota Pahlawan sebagai kota barang dan jasa. Nah, perkembangan pesat di sektor ekonomi tak pelak mengundang investasi berdatangan. Di sisi lain, Surabaya dituntut menyediakan pelayanan publik yang baik sebagai faktor penunjang terciptanya iklim investasi yang kondusif.
“Satu bulan rata-rata bisa 7 ribu-8 ribu berkas yang masuk untuk diproses,” terang Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Kota Surabaya, Agus Eko Supiadi saat menyambut tim juri di kantor UPTSA.
Kepala UPTSA, Pudji Winiarti menambahkan, UPTSA merupakan garda terdepan pelayanan administrasi perizinan di Surabaya. Pernyataan tersebut tidaklah berlebihan mengingat sedikitnya ada 68 jenis perizinan yang ditangani UPTSA. Belum lagi 26 perizinan baru siap menambah deretan ‘menu’ UPTSA pada Oktober tahun ini.
Menyadari hal itu, kantor pelayanan yang beralamat di Jl. Menur 31C ini seakan tak pernah lelah berbenah dan menelurkan inovasi. Tujuannya, memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Demi kenyamanan pemohon, Pudji menuturkan UPTSA dilengkapi berbagai fasilitas diantaranya layar informasi touch screen, aplikasi online, cctv, hingga wi-fi area. Disamping itu suasana ruang tunggu yang nyaman semakin memanjakan para pemohon. “Semua fasilitas tersebut diimbangi dengan peningkatan SDM karyawan berupa pelatihan-pelatihan,” ujarnya.
Masih kata Pudji, salah satu item yang ditonjolkan yakni Surabaya Single Window (SSW). Melalui layanan perizinan online tersebut, masyarakat bisa memasukkan dokumen dari rumah. Nilai tambah dari sistem yang di-launching 14 Maret 2013 ini, selain memangkas alur birokrasi juga memudahkan pemohon memantau progres perizinan yang tengah diurus.
Sementara Ketua tim juri, IGK Arya Winangun menyatakan, dalam melakukan proses penilaian pihaknya berpedoman pada UU 25/2009 Tentang Pelayanan Publik. Ada 9 komponen yang dijadikan kriteria penilaian. Meliputi rencana strategis, visi dan misi, standar pelayanan, SDM, pengaduan, kepuasan masyarakat, serta sistem informasi. Tak ketinggalan, inovasi dalam menciptakan keunggulan juga memberi nilai tambah dalam perlombaan ini.
Setelah meninjau proses pelayanan di UPTSA, tim juri memberikan beberapa catatan evaluasi. Menurut Winangun, volume permohonan dengan tempat pelayanan belum seimbang. Artinya, banyaknya pemohon membuat ruangan terasa penuh sesak. Kerapian ruang server dan lahan parkir yang sempit juga mendapat perhatian dari para juri. “Selebihnya sudah sangat bagus. Kualitas pelayanan dan pemanfaatan teknologi memang patut diacungi jempol,” katanya.

Puskesmas Ketabang Usung Poli Gigi Anak dan Poli Battra
Selain UPTSA, tim penilai lomba unit pelayanan publik juga mendatangi Puskesmas Ketabang. Puskesmas yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto itu dipandang merepresentasikan unit pelayanan publik di bidang kesehatan.
Kepala Puskesmas (Kapus) Ketabang, Andrayani menjelaskan, ada dua poli yang menjadi unggulan. Yakni, poli gigi khusus anak dan poli pengobatan tradisional (battra). Poli gigi khusus anak ini memang spesial mengingat di kebanyakan puskesmas pasien anak digabung di poli gigi. “Gigi pada anak perlu mendapat penanganan tersendiri. Juga secara psikologis, anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karenanya, desain ruangan dan tata letak poli sangat ramah anak,” kata Kapus yang juga dokter gigi ini.
Sedangkan poli battra sejak sebulan lalu pertama dibuka, seakan menjadi ‘primadona’ baru para pasien. Pasalnya, setiap hari tak pernah sepi peminat. Poli ini melayani totok wajah, pijat bayi, akupresur, dan akupuntur. Untuk pengobatannya menggunakan tanaman obat keluarga (toga).
Puskesmas Ketabang menyadari bahwa lahan yang dimiliki tidak terlalu luas. Jika pasien bertambah, ruangan akan terasa sesak. Bahkan, pada waktu ramai tak sedikit pasien yang harus menunggu di luar. Oleh karenanya, Andrayani mengatakan pihaknya melakukan upaya jemput bola melalui puskesmas keliling (pusling). Dengan adanya pelayanan pengobatan yang lebih dekat, diharapkan mampu mengurangi jumlah pasien yang datang langsung ke puskesmas.
Ketua tim juri, IGK Arya Winangun secara keseluruhan menyebut unit pelayanan di Surabaya sudah sangat bagus. Namun, dia tak ingin buru-buru mengambil kesimpulan. Pasalnya, jumlah unit pelayanan publik yang dinilai mencapai 40 unit dari kabupaten/kota se-Jawa Timur. “Yang pasti pemenangnya akan dijadikan model percontohan sistem pelayanan publik bagi daerah-daerah di Jatim. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan naik ke level nasional,” pungkasnya.(r7)