Fasilitasi Kemitraan Pelaku UKM Dengan Pengusaha

Tidak ada komentar 273 views

Surabaya, (DOC) – Dalam rangka menyiapkan kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Surabaya siap menghadapi tantangan pasar bebas pada 2015 mendatang, Badan Koordinasi Pelayanan dan Penanaman Modal (BKPPM) Kota Surabaya menggelar kegiatan temu usaha dalam rangka fasilitasi kerja sama kemitraan antara UMKM potensial Kota Surabaya dengan pengusaha skala nasional di Nur Pacific Gubeng, Rabu (26/6).
Kegiatan yang dikemas layaknya acara Indonesia Lawyers Club di salah satu televise swasta itu dihadiri kalangan dari BUMN dan BUMD, Perbankan, asosiasi pengusaha, pelaku UMKM di Kota Surabaya, serta Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) Pemkot Surabaya dan juga para camat.
Tampil sebagai pembicara, Achmad Sjafii SE ME dari Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya yang berbicara perihal prospek fasilitasi kerjasama kemitraan UKM dengan pengusaha skala nasional. Serta Denny Djoewardi dari La Mode School of Fashio yang menjelaskan tentang pagelaran busana produk UMKM.
Kepala Bidang Kerja sama dan promosi BKPPM Kota Surabaya, Witarko Agung menjelaskan, agenda tahunan ini merupakan hasil dari apa yang telah diupayakan BKPPM selama ini. Sebelum agenda ini digelar, BKPPM melakukan kajian terhadap ribuan UMKM di Kota Surabaya untuk menemukan pelaku usaha yang memiliki potensi. Dari jumlah ribuan UKM tersebut, kemudian disaring dengan parameter tertentu untuk menentukan mana UKM yang memenuhi syarat. Data tersebut kemudian disinkronkan dengan data yang ada di dinas.
Salah satu syaratnya, UKMK tersebut harus memiliki kredibilitas bankable alias pernah berhubungan dengan bank baik dalam bentuk kredit atau loan (pinjaman) dan sebagainya. Artinya, UMKM tersebut sudah memiliki dasar pembukuan yang tertib. Mereka yang punya potensi itulah yang kemudian dipertemukan dengan para pengusaha untuk menjalin kemitraan.
“Mereka kita fasilitasi untuk ketemu dengan pengusaha dalam rangka peningkatan kerja sama kemitraan dan di situ kita harapkan ada simbiosis mutualisme. Pengusaha punya market, UMKM punya produk. Pengusaha akan memberikan peningkatan SDM, pelatihan bahkan penyediaan marketnya,” tegas Witarko.
Dijelaskan Witarko, berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) dan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surabaya, jumlah pelaku UMKM di Kota Surabaya yang sudah masuk kategori UMKM mandiri, jumlahnya sebenarnya cukup banyak dibanding yang belum. Dia menyebut jumlahnya sudah mencapai di atas 10 ribu UMKM. Untuk UMKM yang belum masuk kategori mandiri, ke depannya akan terus dipersiapkan dan difasilitasi.
“Target kami dengan acara ini, para pelaku UMKM bisa full mandiri karena pada 2015 kita tidak bisa mengelak pasar bebas Asia. Tahun depan, kami harapkan di masing-masing kecamatan sudah ada UMKM yang benar-benar mandiri,” tegas Witarko.
Untuk acara temu usaha kali ini, ada dua pengusaha berskala nasional, yakni asosiasi sepatu dan asosiasi perancang busana. Khusus untuk asosiasi perancang busana, mereka akan memberi rekomendasi ke La Mode School of Fashion untuk meningkatkan kualitas SDM UMKM yang bersangkutan dalam mendesain produknya. Menurut Witarko, persoalan klasik yang selama ini dihadapi oleh pelaku UMKM adalah ketidakmampuan dalam finishing produk dan juga mencari pasar (market).
“Masalah SDM itu sebenarnya persoalan tradisional dari dulu. Kadang-kadang UMKM juga kurang tertib, kalau ada acara saja baru digelar, kalau ndak yah ndak. Mereka buka kalau ada momen dan selesai di situ,” ujar dia.
Pemilik UKM Kriya Daun di Ngagel Mulyo, Nanik Herry mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, acara temu usaha ini bagus untuk memotivasi pelaku UKM di Kota Surabaya. “Ini juga bentuk kepedulian terhadap pelaku UKM,” ujarnya.
Nanik mengatakan, tidak semua UKM diundang hadir dalam acara ini. Pihak BKPPM sebelumnya melakukan survey ke lokasi UKM untuk mengetahui apakah UKM tersebut benar-benar hidup dalam artian melakukan produksi, pemasarannya sudah sampai mana, serta mengatu manajemennya bagaimana.
“Kalau UKM kami, kita memanfaatkan sampah-sampah daun yang tidak berguna, kita bikin produk. Kebetulan produk saya sudah ekspor. Kita rutin kirim ke Inggris. Sebetulnya mintanya banyak, tapi saya jaga kualitas. Selain pesanan luar, kita juga ada pesenan lokal tiap bulan,” ujarnya.
Dengan pemasaran yang sudah sampai luar negeri dan lokal secara regular, dirinya tidak menghadapi masalah dalam permodalan. UKM Kriya Daun yang dia kembangkan juga tidak memiliki kendala dalam bahan baku karena pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan petugas kebersihan untuk menyuplai bahan baku berupa sampah-sampah daun.
“Kendalanya itu SDM nya mudah jenuh karena produk saya seni. Sekarang tinggal 36 karyawan, biasanya sampai 50 orang,” ujar Nanik. (r4)