Gagas Rusunawa Menjadi Hak Milik Penghuninya

Tidak ada komentar 174 views

Surabaya (BM)- Anggota Komisi C DPRD Surabaya, mengusulkan gagasan menarik terkait pengelolaan rumah susun (Rusun) di Surabaya. Komisi yang membidangi masalah pembangunan itu menyarankan, pemerintah kota (pemkot) menyerahkan rumah susun yang selama ini disewa warga sebagai hak milik.
Ketua Komisi C Sachiroel Alim Anwar menyatakan, sebagai kota metropolis kebutuhan lahan di Surabaya sudah tidak dapat dihindarkan. Dikhawatirkan jika pemkot tidak ikut intervensi masyarakat miskin yang akan menjadi korbanya.
Padahal, berkaca pada kebijakan di beberapa daerah lain yang ada di Indonesia, sudah banyak kabupaten atau kota yang berani menyediakan rumah susun milik (Rusunami) atau strata tittle kepada masyarakatnya.
“Saya pastikan, masyarakat miskin akan terpinggirkan jika pemerintah kota tidak memiliki perhatian soal masalah Rusun ini,” tegas Sachiroel Alim anwar, Senin (21/10/2013).
Menurut Alim, ada beberapa argumentasi yang melatar belakangi usulanya itu, pertama selama ini biaya yang dikeluarkan pemerintah kota untuk memelihara rumah susun di Surabaya, tidak sebanding dengan pemasukan yang didapat dari uang sewa dari warga.
Ironisnya , ketika pemkot memberlakukan tarif yang lumayan mahal juga mendapat protes atau komplain dari para penghuni rusun karena merasa keberatan. “Memang benar, penyediaan rumah susun merupakan tanggung jawab pemkot sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada warga. Tetapi, ketika pemasukan dan pengeluaran tidak sebanding, tentu kita harus mencarikan solusinya,” ujarnya.
Alasan lainya, legislator asal partai Demokrat (PD) tersebut menilai dengan Rusunami kawasan perkotaan akan tertata dengan baik. Sehingga sangat wajar jika komisinya kemudian menyarankan ada peremajaan kawasan kumuh di Surabaya, melalui program Rusunami.
Alim mencontohkan salah satu kawasan kumuh di Surabaya, adalah di Jalan Kedondong. Ia menilai dengan status lahanya yang merupakan milik pemkot, sejatinya akan memudahkan dalam merealisasikan program rumah susun milik ini.
Sebab, mengacu pada beberapa negara maju yang lebih dulu menerapkan program serupa, cara tersebut terbukti mampu merubah perwajahan kota baik di Singapura maupaun korea selatan (korsel) menjadi lebih baik.
“Sekarang kalau kalian ke Singapur, akan banyak melihat banyak perbedaan antara kota Surabaya dengan di sana. Selain tamanya yang tertata dengan baik, ruang gerak untuk warga serta resapan air juga berjalan baik,” ungkap Alim.
Oleh karena itu, ia mengharapkan agar Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeko) memiliki pikiran yang sama soal program strata tittle ini. Dengan harapan pada 2014 Detail Enginering Design (DED) sudah disiapkan oleh pemkot.
Menyikapai usulan dari Komisi C, sekretaris kota (Sekkota) Hendro Gunawan menjelaskan, bahwa prinsip dasar disediakanya rusunawa adalah memberikan kesempatan bagi warga untuk mempersiapkan diri dalam meningkatkan ekonomi secara bertahap. Makanya ada beberapa ketentuan yang diberlakukan bagi masyarakat yang mengajukan tinggal di rumah susun.
“Filosofi Rusunawa itu sementara bukan untuk dimiliki dan sebagainya,” jelas Hendro Gunawan.
Apalagi, dari segi fasilitas yang disediakan ada perbedaan mencolok antara Rusunawa dengan Rusunami. “Kalau di Rusunawa semua fasiliotas baik kesehatan, ruang baca maupun tempat olahraga disediakan pemkot. Sedangkan di Rusunami, pemerintah kota tidak memebrikan fasilitas apapun,” pungkas Hendro.(k1/r7)