Golput Penyakit Menular Yang Berbahaya

Tidak ada komentar 179 views

Jakarta, (DOC) – kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mensinyalir partisipasi pemilih pemula pada pemilihan umum (Pemilu) April 2014 tidak akan menggunakan hak suaranya atau Golput. Diperkirakan Golput pada pesta rakyat kali ini akan meningkat.
Berdasarkan data Kominfo jumlah pemilih pemula di Indonesia mencapai 52 juta orang. Ini terdiri atas anak-anak berusia 17 tahun ke atas, kaum difabel, masyarakat marginal dan pensiunan TNI. Jika kelompok masyarakat ini bersikap apatis terhadap Pemilu dikhawatirkan akan menambah angka Golput yang terus meningkat.
Mantan Putri Ayu Indonesia tahun 1993 Nonny Chirilda menilai banyaknya anak muda yang tidak menggunakan hak suaranya karena di Indonesia pembelajaran mengenai politik tidak masuk dalam pendidikan sekolah. “Jika anak-anak muda tidak didekatkan dengan politik, mereka tidak akan pernah peduli dengan pesta politik yang bangsa ini kerjakan dan akhirnya memilih golput,” paparnya.
Nonny menambahkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pemerintah harus bekerja keras untuk memberikan kesadaran kepada pemilih pemula tentang arti penting datang ke Tempat Pemilihan Suara (TPS) dan menentukan pilihan mereka. “Selain pemerintah dan KPU, ini juga merupakan tugas partai politik peserta pemilu melakukan sosialisasi, memberi pemahaman dan kesadaran kepada anak muda dan seluruh eleman masyarakat bahwa pentingnya untuk tidak golput,” ujarnya.
Calon anggota DPR RI dari Dapil Kalimantan Barat ini melanjutkan, dampak negatif dari tingginya angkanya golput adalah kembalinya politisi busuk yang tidak layak duduk di senayan menjadi lebih mudah duduk di senayan karena pemilihnya semakin berkurang. Padahal kalau saja golput ini tidak terjadi atau sedikit jumlahnya, maka mereka diharapkan bisa memilih calon calon legislatif yang benar benar dan memiliki integritas untuk melakukan perubahan.
Sementara caleg muda dari Dapil Sulawesi Utara Virgie Baker mengatakan, anak muda sekarang memang cenderung tidak peduli dengan pemilu, tapi sesungguhnya mereka sangat peduli dengan terwujudnya perubahan di Indonesia. “Pemilih pemula, khususnya anak muda memilih golput karena ketidakpercayaan terhadap partai politik, terutama yang tidak menjaga kepercayaan masyarakat,” ujar alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Virgie menambahkan, KPU dan pemerintah selama ini bekerja hanya sebatas melakukan sosialisasi saja tentang pemilu, tidak sampai mengajak masyarakat untuk aktif menggunakan hak suara mereka. “Golput ini jika diibaratkan penyakit, merukapakn penyakit bahaya yang menular. Golput akan menular ke generasi penerusnya, misalnya dalam satu keluarga bapaknya golput akan mempengaruhi anak-anaknya untuk ikut golput juga, jadi semakin lama jumlah golput akan terus meningkat,” tutupnya.
Sementara itu Pengamat Psikologi Politik Hamdi Muluk mengatakan karateristik pemilih udah itu adalah orang yang krits, idealis, namun terkadang pemikiran atau keinginan yang mereka harapkan tidak realistis. Misalkan saja untuk calon pemimpin bangsa, pemilih muda itu mengharapkan calon yang memiliki integritas tinggi, yang sempurna. “Parpol saat ini jarang sekali menawarkan calon pemimpin yang sempurna seperti keinginan para pemilih muda. Karena tidak adanya calon yang sesuai dengan harapan mereka, maka anak muda ini menjadi apatis pada politik dan akhirnya memilih golput,” ujarnya.
Hamid menambahkan, untuk mendorong pemilih pemula agar tidak golput, KPU dan Parpol harus menjelaskan kepada anak muda bahwa pemilu adalah nasib bersama selama pemerintahan baru 5 tahun ke depan. “Untuk menyadarkan masyarakat terutama anak muda, perlu sosialisasi oleh tokoh-tokoh yang dijadikan panutan anak muda saat ini,” imbuhnya.
Pengamat Psikologi dari Universitas Indonesia ini melanjutkan, jika kedepan tingkat golput semakin tinggi ini akan mencoreng wajah demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu pemilih pemula, anak muda harus didorong untuk terlibat aktif di pemilu, sehingga roda demokrasi kita berjalan dengan baik. (r4)